GERBANG HIDAYAH (1)

Fitrah Bekal Kebenaran

Fitrah adalah sesuatu yang dirakit oleh Allah pada diri manusia, dari sananya setiap jiwa diberi fitrah sebagai bekal baginya untuk mencari kebenaran. Karena Allah mengetahui bahwa manusia itu lemah pada semua lini, membutuhkan Khaliqnya, selalu bertopang kepada-Nya dalam menjalani kehidupan ini.
• Fitrah itu adalah Islam yaitu rasa penyerahan diri kepada Zat yang Maha Kuasa…
• Fitrah itu sebuah perasaan kerinduan terhadap kebenaran…
• Fitrah itu sebuah keinginan yang mendalam untuk menjalankan perintah Allah danmenjauhi laranganNya…

Semua perasaan tersebut sekiranya hendak dilupakan atau berusaha dijauhkan dari ingatan, tetap akan melahirkan kehampaan dan kesunyian, akan datang perasaan cemas dan was-was, seakan-akan ada sesuatu yang kurang dan terasa ada sesuatu yang hilang.

Seringkali orang yang seperti ini -setelah pergi semua orang, duduklah ia dalam kesendiriannya, merasakan apa yang kurang pada dirinya. Ia perhatikan sekeliling dirinya, rumah yang ia bangun telah tepat rasanya memilih arsitek yang ahli, hingga pada pilihan paduan warna rumahnya. Ia perhatikan kendaraannya, rasanya tiga mobil yang sekarang parkir di garasi rumahnya sudah cukup membuktikan bahwa ia tidak kurang dalam hal itu.

Lalu ia perhatikan dirinya sendiri, ia lihat bajunya yang baru dipesan dari seorang perancang busana terkenal. Ia rasakan kesehatannya yang baru cek-up ke dokter pribadinya, semuanya sempurna dan semuanya tidak ada yang kurang. Tapi, perasaan apa yang itu yang telah menyelinap dalam dirinya?! Selidik punya selidik, kiranya ada perasaan sunyi yang harus diriuhkan, ada perasaan hampa yang harus diisi, ada perasaan kosong yang harus diramaikan. Dalam agama perasaan itu yang disebut fitrah Allah yang telah diletakkan dalam kalbu manusia. Perasaan yang tidak bisa dibuang.

“(Berpegang teguhlah dengan) fitrah Allah yang telah dirakit manusia dengannya, tidak ada perubahan pada penciptaan Allah . Itulah agama yang lurus “. [QS. ar-Rum:30]

Imam Al-Khatthabi berkata, “Setiap anak yang dilahirkan pada asal penciptaannya di atas fitrah, yaitu tabiat yang lurus dan perilaku yang selalu siap menerima kebenaran. Sekiranya dibiarkan begitu saja, niscaya fitrah itu akan tetap tumbuh. Karena kebenaran agama ini dibenarkan oleh akal, melencengnya banyak orang karena buruknya taqlid dan rusaknya lingkungan, sekiranya ia lepas dan selamat dari hal itu, niscaya ia tidak memiliki keyakinan melainkan keyakinan
Islam–”

Dalam hadits diriwayatkan, Dari Abu Hurairah berkata,
“Telah bersabda Nabi, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, atau Nashrani atau Majusi, bagaikan binatang yang melahirkan binatang, apakah engkau temui yang cacat hidungnya (berbeda dengan induknya) ?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar berkata, “Perkataan yang masyhur bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah Islam”.

Ibnu Abdil Barr berkata “(Makna) itulah yang dikenal di kalangan salaf. Dan telah sepakat ulama tafsir bahwa yang dimaksud dengan fitrah Allah adalah Islam.”

Fitrah ini yang dimaksud oleh Nabi sebagai keinginan untuk menganut ajaran yang hanif, lurus tidak ada penyelewengan, bersih dengan tauhid dan tidak kotori oleh debu syirik.

Dari ‘Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i bahwasanya Rasulullah berkhutbah suatu hari dan berkata, “Ketahuilah! Rabbku memerintahkanku hari ini untuk mengajarkan kepada kalian apa yang kalian tidak ketahui, (dan bahwasanya Dia berkata),
“Setiap harta yang aku berikan kepada seorang hamba halal, dan Aku ciptakan semua hambaku dalam keadaan hanif, hanya syaiakan mendatangi mereka lulu merenggut mereka dari agama mereka”. (HR. Muslim)

Dan hanif tersebut adalah ajaran semua Nabi dan rasul, ituiah ajaran hanifan musliman (lurus dan menyerahkan diri). Allah berfirman;

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. [QS. AIi Imran:67]

Allah berfirman;
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah? Sedang diapun mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambiI Ibrahim menjadi kesayanganNya “. [QS.an-Nisa: 125]

Fitrah inilah yang harus selalu disiram oleh hamba dengan ilmu dan selalu ia pupuk dengan hikmah, sampai ia memperoleh hasilnya, ia tuai hasil panennya dan memetik buahnya pada setiap masa. Jika tidak, maka fitrah tidak akan berguna, memperbaiki dinamo yang rusak dalam mesin atau umpama batang yang tumbuh dan tidak berbuah, atau seumpama tunggul besar yang tidak bermanfaat habis dimakan oleh masa.

Fitrah yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba bagaikan mata yang sehat. Akan tetapi, apa manfaat mata meskipun ia sehat, tetapi tidak ada cahaya yang menyertainya. Apa guna mata dalam kegelapan malam?! Maka cahaya yang diperlukan oleh fitrah itu diaiah Islam yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Fitrah yang belum disinari cahaya Al-Quran dan Sunnah, maka ia masih dalam kegelapan, ia masih belum bisa melihat, ia masih dalam lembah kebodohan. Itulah yang disebut oleh Allah dalam sebuah hadits,

“Wahai anak Adam, semua kalian sesat kecuali orang yang Kuberi hidayah, maka mintalah hidayah kepadaKu, niscaya Aku beri hidayah!”. (HR.Bukhari dan Muslim)

Itulah yang dimaksud oleh Allah tentang perihal Nabi-Nya;

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”. [QS. ad-Dhuha: 7]

Dalam hadits “setiap anak dilahirkan atas fitrah” , bahwa seseorang masih dalam kesesatan dan melenceng dari jalan kebenaran serta menjadi Yahudi atau Nashrani, sekalipun modal fitrah masih ia miliki. Hal ini menunjukkan bahwa fitrah saja belum cukup untuk meraih kebenaran. Maka, berhati -hatiIah bagi orang yang hendak mencari kebenaran dengan menjadikan fitrahnya sebagai timbangan kebenaran. Mengambil suatu ajaran jika sesuai dengan hatinya
dan meninggalkan sebuah pemahaman karena tidak sesuai dengan hatinya.
Ibnu Rajab berkata “Sesungguhnya Allah menciptakan anak Adam dan memfitrahkan mereka dalam menerima Islam, membuat mereka cenderung kepadanya dan memudahkan mereka untuk menerimanya dengan keinginan yang kuat. Akan tetapi, harus-Iah seorang hamba mempelajari Islam sambil berupaya merealisasikannya. Karena ia dalam kebodohan sebelum belajar dan tidak mengetahui apa-apa, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ,

“Dialah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, tidak mengetahui suatu apapun”.[QS. an-Nahal:78]

Dan Allah berfirman kepada NabiNya,

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”. [QS. ad-Dhuha:7]

Maksudnya Dia dapatkan engkau tidak mengetahui kitab dan hikmah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ,

“Begitulah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perkara Kami, sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu kitab dan juga tidak mengetahui iman”. [QS.as-Syura:52].

Manusia hakikatnya difitrahkan untuk menerima kebenaran. Tatkala Allah memberi hidayah kepada seseorang, la mudahkan baginya seseorang yang mengajarkan kebenaran kepadanya. Berarti ia telah memperoleh hidayah perbuatan, sebelumnya ia telah memperoleh hidayah kekuatan. Jika Allah ingin menelantarkannya, maka Allah utus orang yang akan
merubah fitrahnya”. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 25/11, tahqiq: Mahir Yasin Fahal)

Hidayah kekuatan itu adalah fitrah yang Allah letakkan dalam hatinya sebagai kekuatan mencari hidayah dan hidayah perbuatan adalah Islam itu sendiri. Jika ia pergunakan dengan baik hidayah kekuatan, maka Allah akan anugerahkan kepadanya hidayah kedua yaitu hidayah ke dalam Islam yang benar.

Bangun dari Kelalaian

begitulah seorang muslim meiafadzkan kalimat perkalimat dari dua ayat dalam surat al-Fatihah tersebut. Artinya, “Tunjukilah kami jalan yang
lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat…”, ia membacanya pada setiap rakaat dalam penghambaan dirinya kepada Allah. Begitu pentingnya hidayah itu sehingga ia harus memohon minimal tujuh belas kali dalam satu hari satu malam. Karena ia tahu bahwa ia sangat
membutuhkan hidayah sejumlah napas yang keluar-masuk tubuhnya.
Dan sebagaimana tubuhnya membutuhkan makanan dan minuman, hatinya juga membutuhkan hidayah sebagai makanan dan minumannya.
Hidayah adalah nikmat yang di anugerahkan Allah kepada seorang hamba dari bilangan nikmat yang ada. Hidayah adalah sentuhan lembut Ilahi untuk mengantarkannya kepada pantai kebahagiaan…

la merupakan rengkuhan Ilahi agar tidak terjatuh ke dalam jurang kesalahan dan kesengsaraan…

la merupakan pengalihan kemauan seorang hamba yang penuh nafsu dan hawa kepada kehendak Dzat Yang Maha Kuasa, lalu Dia tidak membiarkannya sendirian dalam mencari kebenaran, akan tetapi tangan-Nya yang menuntunnya dan mengambil ubun-ubunnya kepada
arah yang la ridhai…

Orang yang baru timbul kesadarannya dalam menerima Islam, seperti orang yang terbangun dari tidur panjangnya atau seperti prang yang sadar dari mabuknya.

Ibnul Qayyim berkata: “Kesadaran merupakan kunci pertama kebaikan, sesungguhnya orang yang lalai dalam mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rabbnya dan lupa dengan bekal hari kepulangannya, seperti orang yang tidur bahkan ia lebih parah.

Orang yang berakal pasti mengerti janji dan ancaman Allah , paham balasan dalam melaksanakan perintah dan larangan, serta paham hukum dan kewajibannya. Akan tetapi hilangnya kesadaran dan adanya kelalaian – telah menghalangi seorang untuk memahami hakikat dan membuatnya lemah dalam mengejar ketertinggalan. Itulah kelalaian yang selama ini membuat ia belum sadarkan diri dalam pingsan yang berkepanjangan, condong dan empati dengan dorongan syahwat, hingga kecenderungannya menguat dan ia terbenam dalam lumpur syahwat. Iapun dikuasai oleh tradisi dan pengaruh orang-orang yang tidak punya pekerjaan, telah meniru orang-orang yang menyia-nyiakan waktu.

Dalam ketidaksadarannya bersama orang-orang yang pingsan dan dalam mabuknya bersama orang-orang yang mabuk. Ketika mata hatinya telah terbuka, dengan satu pekikan dari

suara kebenaran, iapun sadar dan barulah terasa baginya seruan Allah.
Jika demikian yang terjadi pada seorang hamba, maka hal itu pertanda baik…berarti jejak-jejak kasih sayang Allah sudah mulai tampak di halaman kalbunya, awan mahabbah dan kabut cinta Allah sedang datang berarak-arak menuju langit hatinya. Bersegeralah ia mengambil tempayan untuk menampung hujan hidayah, jangan biarkan ia berlalu dan meninggalkannya dalam kesendirian menyebabkan ia harus menunggu dan menunggu pada sebuah penantian yang tidak berkesudahan…

Lokomotif Hidayah

Banyak cara Allah agar membuat sprang hamba kembali kepada kebenaran, pulang ke kampung halaman setelah lama berpetualang melintasi lembah maksiat dan membelah padang pasir pengingkaran… sudah begitu jauh perjalanannya, kiranya fitrah juga yang dapat
menjanjikan kebahagiaan yang hakiki bukan yang lainnya… kembali kepada Allah.

Ada seorang parewa ( Parewa adalah bahasa minang yaitu pemuda yang hidupnya bergeiimang dosa dan maksiat, akan tetapi masih memiliki iman dan rasa hormat kepada orang yang beragama) yang telah banyak melakukan dosa, diantaranya dia telah banyak membunuh orang sampai jumlah 99 orang. Tiba-tiba rasa kerinduan kepada kebenaran menghentak-hentak ubunnya, ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya.

Lalu pergilah ia bertanya kepada orang-orang tentang siapa orang yang bisa mencari jalan keluar bagi permasalahannya. Masyarakat menunjuk seorang ahli ibadah dan disarankan untuk bertanya kepadanya. Lalu ia bertanya perihal dosa yang ia lakukan, apakah masih terbuka baginya pintu taubat dan hidayah?, ahli ibadah itu menjawab, “Tidak”. Mendengar
jawaban itu, sang pemuda marah, maka ia lengkapkan menjadi seratus.
Sekalipun dosa telah ia lakukan kembali, maksiat yang ia telah akui sebagai kesalahan sekarang terulang lagi, seperti luka lama yang telah tidak lagi bertaut. Meskipun demikian tidak membuatnya putus asa, lalu ia kembali mencari untuk kedua kalinya akan ahli ilmu yang benar-benar berilmu. Ditunjukkanlah kepadanya seorang yang berilmu. Ia berkata,
“Tuan Guru, hamba telah membunuh 100 orang, yang terakhir bukan sembarangan orang, ahli ibadah yang di mata Allah ia jauh lebih mulia dari 99 orang yang telah hamba bunuh sebelumnya. Apakah pintu taubat itu masih terbuka bagiku?”. la menjawab, “Siapa yang dapat menghalangi
antaramu dengari taubat?”. la angkat kepalanya seakan tidak percaya dari jawaban tersebut, berbinar wajahnya, menetes air matanya karena bahagia yang tidak tertanggungkan… lalu ia rangkul sang alim tersebut.
Selesai sudah pengembaraannya…saatnya ia menghirup hari-hari bahagia, tidak akan ia ulang kembali tindakan-tindakan yang telah meletihkan dan menyengsarakannya.

“Akan tetapi, berangkatlah engkau ke negeri yang jauh, tempat orang-orang yang shalih tinggal, jangan kembali lags ke negerimu, karena negerimu, negeri yang tidak baik”, lanjut sang Alim. Iapun berangkat, bersamaan dengan langkah kakinya meninggalkan kampung halamannya bersamaan itu pula ia telah berazam dalam lubuk hatinya untuk hijrah dari semua amal buruk menuju amal baik. (HR Bukhari 6/512, Muslim no. 2766 dari Sa’ad bin Malik bin Sinan)

Kebanyakan orang menemukan hidayah, tatkala hatinya sedang tunduk, remuk- redam dengan suatu musibah yang sedang menimpanya. Mematahkan semua kesombongannya, meluluh-lantakkan ketidakpeduliannya selama ini terhadap Allah dan syariat-Nya. Ketika ia
sudah berada di atas jurang kehancuran, Allah tarik tangannya lalu ia tuntun dengan kelembutan dan kasih sayangNya, seharusnya kehidupannya sudah hancur berkeping-keping, jiwanya berantakan, akan tetapi ia kembali kepada jalan Allah.

Orang ini seperti seorang prajurit pembelot dan pengkhianat yang telah kalah berperang melawan atasannya. Lalu dengan pakaian yang sudah lusuh, wajah kotor dan berdebu, luka-luka memenuhi sekujur tubuhnya, ia kembali menyerah, mengangkat kain putih tanda kalah. Mudah-mudahan dengan menyerahkan diri secara suka-rela sang atasan akan melepaskan dan memaahkan kesalahannya. Kadangkala Allah timpakan kepadanya penyakit yang menyebabkan ia terbaring lemas, berbilang hari bahkan bulan ia di atas kasur putih setelah puluhan tahun ia melawan Allah dengan maksiat bermodalkan kesehatan yang ia sangka akan abadi untuk selamanya.

Kadangkala Allah menundukkan kesombongan dengan mencabut kekayaan yang ia merasa memiliki selama ini, kesadaran muncul setelah api besar membakar istananya dan menghanguskan segala kekayaan yang ia peroleh dengan bercucur keringat, sebagaimana dulu ia cucurkan keringat, hari ini ia juga ia telah cucurkan air mata.

Kadangkala Allah memaksanya untuk bersujud dan membaluri keningnya dengan tanah setelah ia kehilangan orang-orang yang ia cintai. Sudahkah anda pernah mendengar cerita seorang suami pedagang bensin, ketika sedang menuangkan bensin ke dalam tangki motor salah seorang pembeli, tiba-tiba jatuh puntung rokok ke dalam bensin tersebut, lalu membakar dirinya dan rumah beserta orang-orang yang ada di dalamnya, dari anak dan istri yang sangat ia cintai.

Kadangkala Allah memberi hidayah kepada seseorang, setelah ia terjerat dalam sebuah kasus korupsi, setelah ia merasakan sempitnya penjara dan perihnya kehilangan jabatan, ia tinggalkan dunia dan ia kembali kepada Allah…

Mereka-mereka itu adalah orang-orang beruntung, mereka menemukan jalan kembali, setelah diberi teguran oleh Dzat Maha Pencipta.
Ada lagi satu golongan orang yang jauh lebih mulia dari orang-orang di atas dalam perolehan hidayah, yaitu orang yang dihentikan perjalanannya oleh kerinduan kepada kebenaran. Seperti perjalanan ikan salmon melintasi sungai, menyeberangi lautan dan mengarungi samudera, melintasi benua. Telah bermil-mil perjalanan ia tempuh, telah habis pula kebanyakan umurnya dalam perjalanan jauh itu. Ketika sudah tiba masanya, ada rasa kerinduan memanggilnya untuk pulang ke tempat asalnya, sekalipun banyak aral yang merintangi kepulangannya, sekalipun arus deras yang akan ia hadapi, ia tetap bersikukuh untuk pulang, kembali ke fitrah sebagaimana ia dilahirkan oleh ibunya.

Khalid bin Walid, seorang ksatria tanpa tanding, panglima yang tidak terkalahkan, hamba Allah yang tawadhu’ (rendah hati), pemilik jiwa besar. Semuanya tentu tahu apa yang pernah ia lakukan terhadap kaum muslimin di perang Uhud, dengan ketajaman pandangannya ia dapat merubah kekalahan menjadi kemenangan untuk Quraisy, sebagai kemenangan pertama dan terakhir bagi mereka. Hampir pada semua tempat di mana ia berada, dia memasang permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin.

Sampai akhimya, keinginan untuk pulang itu begitu kuat, beberapa hari sebelum penaklukan Mekkah ia mengajak kawan karibnya ‘Amr bin Ash berangkat menuju Madinah untuk menyatakan keislamannya. Berangkatlah mereka dengan azam yang telah kuat di hati mereka, sebab mereka adalah para kesatria Quraisy. Setibanya di Madinah mereka utarakan keinginannya, ketika Rasulullah mengulurkan tangannya kepada Khalid, ia tarik kembali tangannya, lalu ia berucap, “Dengan syarat, wahai Nabi Allah! Agar Allah menghapuskan segala kesalahanku semasa Jahiliah”.

Rasulullah tersenyum dan berkata, “Apakah engkau belum tahu, wahai Khalid?!, Sesungguhnya Islam menghapuskan semua kesalahan sebelumnya”.

Adapun Ikrimah bin Abu Jahal – ia salah satu pemuda Quraisy yang paling keras perlawanan dan permusuhannya kepada Nabi, setelah Mekkah dikuasai oleh Rasulullah, ia mencoba lari dari kenyataan, ia seberangi lautan, ia lintasi padang pasir dalam kesendiriannya, ia coba tinggal di negeri orang, ia coba menahan dirinya dari keinginan pulang kepada kebenaran. Telah ia coba, tapi panggilan itu begitu kuat, keinsafan menghinggapi hari-harinya, maka ia coba untuk melangkahkan kaki pulang menyatakan kelemahan diri dan mengantarkan kepasrahan jiwa.
Disebutkan oleh lbnu Hajar , “Ketika Ikrimah dalam pelariannya, ia sedang di atas bahtera, tiba-tiba datang badai, lalu orang-orang yang berada dalam bahtera itu berteriak,

“Ikhlaskan niat kalian kepada Allah, sesungguhnya Tuhan (berhala) kalian tidak mendatangkan manfaat sedikitpun”.

Sampai badai tersebut menjadi tenang, lalu ia berkata, “YaAllah, jika keikhlasan yang menyelamatkanku di lautan, tentu Dia juga yang akan menyelamatkanku di daratan. Demi Allah , aku berjanji, jika aku selamat dari kejadian ini, aku akan mendatangi Muhammad -Shallallohu ‘alaihi wa
sallam- dan aku letakkan tanganku di atas tangannya”.(Al Ishabah 4/538)

Ada suatu golongan dalam perolehan hidayah, mereka memperolehnya dengan proses pencarian yang cukup melelahkan, berpindah dari satu ajaran kepada ajaran lain, dari agama kepada agama lain, akhirnya dia memperoleh apa yang inginkan. Contoh yang tepat untuk golongan ini seperti Salman AI-Farisi danWaraqah bin Naufal.

Yang lebih hebat lagi adalah golongan yang sudah dalam katagori mati, tidak ada harapan, tidak ada denyut kebenaran dalam hatinya, lalu rahmatAllah menda-huluinya, iapun memperoleh hidayah. Contoh dari golongan ini adalah Umar bin Khattab . Padanya diturunkan ayat dalam suratAl-An’ am, Allah berfirman;

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?”. [QS. al-An’am:122]

Ini permisalan dari Allah terhadap seorang mukmin yang awal mula hatinya telah mati dalam kesesatan dan binasa dalam kebingungan, lalu Allah hidupkan dan segarkan kembali dengan iman dan Allah beri petunjuk untuk mengikuti rasulNya. Dia masukkan dirinya kepada agama penyerahan diri. Saat itu, ia telah mulai mengerti hal-hal yang bermanfaat dan jauh dari hal yang mudharat, berusaha untuk melepaskan diri dari kemurkaan, matanya mulai mengenal kebenaran yang sebelumnya ia buta, ia sudah mulai belajar yang sebelumnya ia tidak mengetahui, ia sudah mulai belajar untuk mengikuti, sampai ia memperoleh cahaya, dan dengan cahaya itu ia dapat menggunakannya untuk menerangi perjalanannya kepada Allah, di tengah kegelapan manusia. (Lihat Tafsir Ibn Katsir (2/231), dan Ighastul Lahfan, Ibnul Qayyim hal. 26)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: