Manfaatkanlah Waktu

Bersama Syaikh Masyhur Alu Salman Hafidzahulloh

Ditanyakan kepada beliau : “Wahai syaikh, kami menginginkan agar anda membuat ceramah khusus, tentang bagaimana awal kali anda mendapatkan petunjuk (untuk menuntut ilmu agama), kapan pertama kali anda mengajar ?

Beliau menjawab : “Adapun saya ini maka tidak pantas kehidupan saya dijadikan bahan ceramah, atau nama saya disebut. Saya mengatakan semua ini dengan sebenarnya, demi Allah saya mengatakan ini bukan lantaran sikap tawadhu’ (rendah hati), saya mengetahui kemampuan diri saya. Adapun masalah ilmu, Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya, Dia akan memahamkan masalah agama kepadanya.”

Dan kami memohon kepada Allah –azza wa jalla- agar memberikan tambahan karunia-Nya, dan mengajarkan apa yang tidak kami ketahui, dan menjadikan ilmu yang Dia ajarkan sebagai catatan amal baik kami, ikhlas mengharapkan wajah-Nya, dan agar Dia menjadikan kami termasuk orang yang hidup dengan ilmu dan manusia yang lain (mendapatkan manfaat dari ilmunya), karena manusia itu terbagi menjadi tiga golongan :

– Pertama :
Seseorang yang hidup dengan ilmunya.

– Kedua :
Seorang yang hidup dengan ilmunya dan manusia yang lain dapat mengambil manfaat dari ilmunya.

– Ketiga :
Seseorang yang ilmunya bermanfaat bagi yang lain, tapi ia sendiri membinasakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya).

Namun saya akan menceritakan hal ini, (karena) alasan pertama, sebagai bentuk pengungkapan akan nikmat Allah, alasan kedua, dalam kisah ini ada manfaat yang bisa dipetik oleh para penuntut ilmu.

Sebenarnya, awal kali saya berkeinginan menuntut ilmu adalah di waktu masih kecil, dahulu saya berangan-angan ada seorang yang bisa mengajariku atau membimbingku meskipun ia hanya seorang pelajar, karena pada waktu itu kami tidak mendapatkan di masjid seorangpun yang mengajarkan ilmu agama. Yang kami dapati sebagaimana kalian tahu semua – dan saya tidak ingin menceritakan secara detail – para tukang cerita dan pemberi nasehat yang membuat bingung, mencela dan melaknat, tidak mendidik, dan tidak mengajarkan. Hakekatnya, kami waktu itu payah, tidak dapat membaca, memahami dan tidak dapat kami temukan orang yang mengajari kami.

Alangkah bahagianya (dariku), tatkala Allah –azza wa jalla- memberikan kemudahan, yaitu ketika saya mendengar syaikh Imam ahli hadits pada zaman ini Abu Abdurrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani, datang ke Yordania tahun 1978-1979. Syaikh berulang kali datang ke kota ini dan waktu itu saya masih di bangku SMU. Allah –azza wa jalla- memberikan karunia padaku, dimana aku dapat hadir duduk dalam majelis syaikh al-Albani. Aku merasa menemukan surga, (karena) dapat menjumpai seorang yang kalian akan kagum (jika melihatnya), seorang yang disegani dan mempunyai kesederhanaan. Beliau tidak mengenal sesuatupun kecuali ilmu, ilmu senantiasa memenuhi waktu beliau, malam, siang. Saat di rumah maupun bepergian, dipenuhinya dengan ilmu. Saya pernah memasuki perpustakaan syaikh al-Albani dimana beliau menekuni bacaan di tempat itu. Betapa seringnya aku berdoa kepada Allah agar Dia memberikan rezki kepadaku berupa perpustakaan seperti milik syaikh. Dan sekarang alhamdulillah, perpustakaanku seperti perpustakaan syaikh, atau bahkan lebih luas. Dan saya amat sangat cemburu kepada syaikh (saya ingin seperti beliau) ketika saya melihat di perpustakaannya terdapat kasur dan bantal. Kecemburuan besar ini masuk dalam hatiku. Beliau syaikh al-Albani menyambung antara malam dan siangnya (dengan membaca), beliau tidak kenal dengan kalimat bosan dan payah jika berada diantara kitab-kitab di masa hidupnya, bahkan pernah tatkala beliau membaca di perpustakaan “ad-Dhahiriyah” beliau lupa diri (lantaran nikmatnya ketika membaca), beliau berkata kepada penjaga perpustakaan : “Pulanglah kalian dan kuncilah pintu perpustakaan dari luar dan besok bukalah kembali”. Hingga hal ini menjadikan syaikh dibuatkan satu kamar khusus di perpustakaan oleh pengurusnya.

Seorang pengurus perpustakaan di Mekkah pernah bercerita kepadaku : Suatu kali syaikh al-Albani pergi ke Mekkah untuk umrah, kemudian ada suatu permasalahan yang membuatnya harus membaca kitab, lalu beliau masuk perpustakaan dan tibalah waktu perpustakaan akan ditutup. Lalu aku berkata padanya : “Wahai syaikh, kami akan menutup perpustakaan ini.” Lalu beliau menjawab : “Tutup saja perpustakaan ini, biarkan aku didalamnya dan besok bukalah kembali!”

Ini adalah kisah yang benar terjadi, kalaulah kita tidak dapat mengambil faedah dari syaikh al-Albani kecuali hanya semangat beliau menjaga waktunya, dan kecintaan beliau kepada ilmu tentulah hal inilah adalah kebaikan yang besar. Memahami sesuatu melalui berita tidak sama dengan memahaminya dengan melihat sendiri.

Allah –ta’ala- menjadikanku mencintai ilmu semenjak kecil, dahulu saya banyak membaca, dan membaca banyak hal yang belum saya ketahui, inilah keadaan saya. Namun terkadang saya tidak memahami apa yang saya baca, akupun duduk dan menangis, lalu berdoa : “Ya Allah ajarilah aku.”
Betapa gembiranya dan senangnya, tatkala saya membaca dalam tafsir al-Alusi, [1] ketika ia menukil beberapa halaman, setelah itu ia mengomentarinya : “Apakah engkau paham? Adapun aku (al-Alusi) belum paham masalahnya.” Aku sangat gembira setelah membaca tulisan al-Alusi ini.

Belajar itu membutuhkan waktu, kejujuran, keikhlasan, butuh waktu bersendirian, dan butuh waktu khusus untuk mencurahkan perhatian padanya, menyambung malam dengan siang, lelah dan berdoa kepada Allah –ta’ala-, dan lain-lain.

Dan tidaklah saya minum air zamzam [2] dalam waktu yang lama, melainkan agar Allah –ta’ala- mengajariku ilmu, namun saya masih saja (merasa) belum berilmu. Saya mohon kepada Allah –azza wa jalla- agar mengajariku ilmu.

Pertanyaan kedua : seorang penanya berkata : “Saya merasakan waktuku hilang percuma tanpa faedah, apa yang engkau nasehatkan wahai syaikh?”

Jawaban : Nasehatku, hendaknya engkau mengetahui bahwa dirimu sendiri itu adalah waktu, seandainya ada orang berkata padamu : “Potonglah jarimu, aku akan mengganti dengan uang sekian!” apakah engkau akan menerimanya?

Engkau adalah waktu, jika hari berlalu, sebagian tubuhmu mati, seperti kalender penanggalan, setiap hari dirobek, diambil jika hari kemarin telah berlalu. Dan pasti kalender itu akan habis. Inilah keadaanmu bersama hari-hari (yang engkau jalani). Umar bin Abdul Aziz berkata : “Wahai anak Adam, malam dan siang berbuat padamu, berbuatlah pada malam dan siang.”

Al-Hasan al-Basri berkata : “Aku menjumpai suatu kaum yang bersemangat dalam menjaga waktu mereka, melebihi semangat mereka dari menjaga harta dan uang mereka.”

Demi Allah, waktu itu lebih berharga dari harta, barangsiapa menyia-nyiakan hartanya tanpa faedah maka ia akan dicela, padahal harta itu akan kembali lagi jika seorang luput mendapatkannya. Adapun waktu jika terlewatkan maka tidak akan kembali, dan ini merupakan kebodohan yang melebihi dari penyia-nyiaan terhadap harta.

Nasehatku kepada kalian : Hendaknya kalian bersemangat menjaga waktu kalian sekalipun hanya mengisinya dengan berzikir, sebagaimana sabda Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- kepada Abdullah bin Yusr :
“Hendaknya lidahmu senantiasa basah dengan berzikir,

Ucapkanlah : “Subhanallah walhamdulillah.” karena waktumu lebih berharga dari hartamu, lebih berharga daripada anakmu. Waktumu adalah kehidupanmu, barangsiapa menyia-nyiakan kehidupannya maka celakalah ia.

Disusun oleh Abu Hasan Arif dari : http://www.mashhoor.net dan CD ke 1 Kumpulan fatwa Syaikh Mashur bin Hasan

—————————————————
1. Tafsir “Ruhul Ma’ani fi Tafsir al-Qur’anil adhim was Sab’i al-Ma’ani” karya al-Allaamah Syihabuddin as-Sayyid Mahmud al-Alusi al-Baghdadi (1217 H – 1270 H), karya beliau kurang lebih 22 judul buku, yang termashur adalah tafsir ar-Ruhul al-Ma’ani.
2. Mengenai barakah air zam-zam Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- bersada : Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zam-zam, di dalam kandungan airnya terdapat zat makanan, yang bergizi dan obat bagi penyakit (HR Thabrani, lihat silsilah al-Ahadits ash-Shahihah jilid 3 hal 44)

(Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 19, hal. 31-34)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: