<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>An-Nashiihah</title>
	<atom:link href="http://elilmu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://elilmu.wordpress.com</link>
	<description>Sebuah wasilah untuk silaturahim dan saling memberi nasihat</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 May 2011 13:28:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='elilmu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>An-Nashiihah</title>
		<link>http://elilmu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://elilmu.wordpress.com/osd.xml" title="An-Nashiihah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://elilmu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pesankan Saya Tempat Di Neraka.. (Sebuah Renungan)</title>
		<link>http://elilmu.wordpress.com/2011/04/01/pesankan-saya-tempat-di-neraka-sebuah-renungan/</link>
		<comments>http://elilmu.wordpress.com/2011/04/01/pesankan-saya-tempat-di-neraka-sebuah-renungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 22:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatunnufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elilmu.wordpress.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Pesankan Saya Tempat Di Neraka.. (Sebuah Renungan) Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terja…ga. Jilbab memang memiliki multifungsi. Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=285&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pesankan Saya Tempat Di Neraka.. (Sebuah Renungan)</p>
<p>Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika.</p>
<p>Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terja…ga. Jilbab memang memiliki multifungsi.</p>
<p>Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.<span id="more-285"></span></p>
<p>Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.</p>
<p>Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!</p>
<p>“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!”</p>
<p>Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.</p>
<p>Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.</p>
<p>Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria .</p>
<p>Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.</p>
<p>“Bangunkan saja!” kata seorang penumpang.<br />
“Iya, bangunkan saja!” teriak yang lainnya.</p>
<p>Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.</p>
<p>Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah.</p>
<p>Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi?</p>
<p>Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!</p>
<p>Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.</p>
<p>Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.<br />
Seandainya setiap orang mengetahui akhir hidupnya….<br />
Seandainya setiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat…<br />
Seandainya setiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk…<br />
Seandainya setiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah…</p>
<p>Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbingNya.<br />
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA untuk semakin dekat.</p>
<p>Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar…<br />
mumpung kesempatan itu masih ada!</p>
<p>Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu a’lam.</p>
<p>Ditulis dalam majalah Almanar (bukan Almanar yang dulu dikelola syekh Muhammad Rasyid Ridho yang kemudian menulis tafsir Almanar itu, melainkan Almanar Aljadid/neo-Almanar)</p>
<p><a href="http://elilmu.blogspot.com">sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elilmu.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elilmu.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elilmu.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elilmu.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elilmu.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elilmu.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elilmu.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elilmu.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elilmu.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elilmu.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elilmu.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elilmu.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elilmu.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elilmu.wordpress.com/285/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=285&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elilmu.wordpress.com/2011/04/01/pesankan-saya-tempat-di-neraka-sebuah-renungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11ab2fdcebda9e092a3267fe41cb53d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DAKWAH SALAF DAKWAH YANG KERAS&#8230;??</title>
		<link>http://elilmu.wordpress.com/2010/12/04/dakwah-salaf-dakwah-yang-keras/</link>
		<comments>http://elilmu.wordpress.com/2010/12/04/dakwah-salaf-dakwah-yang-keras/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Dec 2010 10:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[al-Masa&#039;il]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elilmu.wordpress.com/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Penanya: Wahai Syaikh, ini ada pertanyaan tentang dakwah. Sikap lemah lembut, ramah dan halus adalah termasuk sunah yang benar dari Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – Syaikh: Begitulah. Penanya : Apakah dalam dakwah wajib ada sikap lemah lembut dan harus dilaksanakan, ataukah hal itu mustahab (hukumnya -pent)? Syaikh: Hal itu hukumnya wajib. Penanya: Baiklah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=282&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penanya: Wahai Syaikh, ini ada pertanyaan tentang dakwah. Sikap lemah lembut, ramah dan halus adalah termasuk sunah yang benar dari Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam –<br />
Syaikh: Begitulah.<br />
Penanya : Apakah dalam dakwah wajib ada sikap lemah lembut dan harus dilaksanakan, ataukah hal itu mustahab (hukumnya -pent)?<br />
Syaikh: Hal itu hukumnya wajib.<br />
Penanya: Baiklah, pertanyaan tadi ada maksudnya, ada tujuannya.<br />
Syaikh: Di balik bukit pasti ada sesuatu, baiklah.<br />
BENARKAH BAHWA SALAFIYUN TERKENAL DENGAN SIKAP KERASNYA DALAM DAKWAH ?<br />
 <span id="more-282"></span><br />
Penanya: Salafiyun dengan beragamnya mereka terkenal dengan sikap keras dan kurang lembut dalam berdakwah, ini mungkin benar. Jika Anda memandang hal ini benar – dan inilah pandangan saya – apa komentar Anda atas hal yang semacam ini?<br />
Syaikh: Pertama, dalam ucapanmu itu ada yang perlu diperhatikan. Yaitu perkataanmu, “ini mungkin benar,” demikian?</p>
<p>Penanya: (Saya katakan) Jika Anda memandang hal ini benar.<br />
Syaikh: Pertama engkau katakan “ini mungkin benar” maksudnya adalah apa yang dikatakan tentang mereka berupa sikap keras mungkin benar. Apakah engkau termasuk mereka?</p>
<p>Penanya: Iya, maaf, saya telah mengatakannya, iya.<br />
Syaikh: Di sini perlu diperhatikan. Kami ingin menarik perhatian saudara-saudara kami, ketika mereka berbicara dengan ucapan seperti ini, kami katakan ini adalah perkataan diplomatis. Seringnya mereka tidak memaksudkan perkataan itu. Akan tetapi perkataan itu hanyalah yang ada dalam hati, hanya saja lisan dijadikan sebagai petunjuk atas apa yang ada dalam hati. Maka tatkala seseorang berkata dalam satu perkara, “mungkin seperti ini” maka perkataan ini berhadapan dengan lawannya yaitu, “mungkin tidak seperti itu.” Apakah demikian?</p>
<p>Penanya: Benar.<br />
Syaikh: Sekarang, di sini ada dua hal yang muncul berkaitan dengan pertanyaanmu, dan setelah itu kita akan meneruskan jawaban. Apakah engkau yakin terhadap pernyataan bahwa Salafiyun tidak memiliki kelemahlembutan, yang ada hanya sikap keras pada mereka dan sikap keras ini adalah manhaj mereka, apakah engkau yakin akan hal ini? Engkau telah membuka untukku pintu pertanyaan ini, karena engkau telah berkata, “ini mungkin benar.”</p>
<p>Penanya: Saya telah mengucapkannya, maafkan perkataan saya.<br />
Syaikh: Jika demikian, (sekarang) kami ingin mendengar perkataan yang benar. Apa itu?</p>
<p>Penanya: Apakah aku ulangi perkataan tadi?<br />
Syaikh: Tidak, jangan kamu ulangi, karena itu perkataan yang salah. Jika tidak demikian, kenapa kamu minta maaf? (Yang kami inginkan -pent) engkau mengulangi pendapatmu dengan cara yang benar, tanpa pernyataan “mungkin”. Jelas?</p>
<p>Penanya: Iya. Syaikh: Baiklah, silahkan.<br />
Penanya: [Di sini penanya mengulangi ucapannya dan jawaban Syaikh yang lalu]… Salafiyun, – menurut pendapat saya – mereka terkenal dengan sikap yang keras dan kurang lembut dalam dakwah. Ini adalah pendapat saya.<br />
Syaikh: Engkau termasuk mereka?</p>
<p>Penanya: Saya berharap demikian.<br />
Syaikh: Engkau berharap demikian. Engkau termasuk mereka, maksudnya engkau salafi?</p>
<p>Penanya: Iya.<br />
Syaikh: Baiklah, engkau termasuk Salafiyun yang keras?</p>
<p>Penanya: Saya tidak mentazkiah diri saya… maksudku adalah sifat yang nampak.<br />
Syaikh: Perkaranya sekarang bukanlah perkara tazkiyah. Akan tetapi tentang penjelasan kenyataan. Sebagaimana kami katakan, perkaranya, engkau sekarang yang memulai pertanyaan, ini dalam rangka saling menasehati. Tidak tepat di sini pernyataan, “Saya tidak mentazkiyah diri saya.” Karena engkau hendak menjelaskan kenyataan. Seandainya engkau bertanya kepadaku dengan pertanyaan ini, aku akan menjawab, “menurut persangkaanku, aku bukan orang yang bersikap keras.” Akan tetapi hal ini tidak berarti aku mentazkiyah diriku, karena aku memberitakan tentang kenyataanku. Maka pikirkanlah pertanyaannya.</p>
<p>Penanya: Iya, jawabku sebagaimana jawaban Anda, wahai Syaikh.<br />
Syaikh: Jika demikian, tidak benar kita memutlakkan pernyataan bahwa Salafiyun bersikap keras. Yang benar kita katakan, sebagian mereka bersikap keras. Apakah jelas sampai di sini?</p>
<p>Penanya: Iya.<br />
Syaikh: Baiklah, jika demikian, kita katakan bahwa sebagian Salafiyun memiliki metode dakwah yang keras. Akan tetapi, apakah engkau melihat sifat ini merupakan kekhususan Salafiyun?</p>
<p>Penanya: Tidak. Syaikh: Kalau begitu, apa faidahnya dan apa maksud dari pertanyaan ini?! Ini yang pertama. Dan yang kedua, sikap lembut yang kita katakan hukumnya wajib, apakah dia berhukum wajib selamanya?<br />
Penanya: Tidak selamanya.<br />
Syaikh: Jika demikian kita telah mengeluarkan kesimpulan berikut. Pertama, tidak boleh bagimu dan juga selainmu untuk menyifati satu kelompok manusia dengan satu sifat lalu engkau menggeneralisir sifat itu kepada keseluruhan mereka. Kedua, tidak boleh bagimu untuk memberikan sifat ini kepada salah seorang individu kaum muslimin baik salafi atau kholafi – dalam batasan istilah kita – kecuali dalam sebagian perkara tertentu, selama kita sepakat bahwa sikap lembut tidak disyariatkan untuk berlaku selalu dan selamanya. Kita mendapati Rasul – shollallohu ‘alaihi wa sallam – telah menggunakan sikap keras yang jika sikap itu dilakukan oleh seorang salafi pada hari ini niscaya orang-orang akan mengingkarinya dengan keras. Contohnya, barangkali engkau mengetahui kisah Abu Sanabil, apakah engkau ingat kisah ini?</p>
<p>Penanya: Tidak, tidak. Syaikh: Ada seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya sedangkan dia dalam keadaan hamil. Lalu dia pun melahirkan. Dan telah sampai kepadanya dari Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bahwa seorang wanita hamil yang ditinggal mati suaminya akan berakhir masa ‘iddahnya jika dia melahirkan anaknya. Hadits itu menyebutkan – dan hadits ini ada dalam Shahih al-Bukhari – bahwa setelah wanita itu melahirkan dia pun berhias, bercelak dan mempercantik diri untuk bersiap menerima pinangan. Maka Abu Sanabil melihatnya, sedangkan dulu dia pernah meminangnya namun wanita itu enggan. Berkatalah Abu Sanabil kepadanya, (bahwa) tidak halal bagimu (berhias diri) kecuali setelah berakhirnya masa iddah wanita yang ditinggal mati suaminya – yaitu empat bulan sepuluh hari –. Dan nampaknya wanita itu adalah orang yang perhatian terhadap agamanya, sehingga tidak lain yang dia lakukan adalah berjilbab dan bersegera menuju Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – lalu menyampaikan kepada beliau apa yang dikatakan Abu Sanabil kepadanya. Maka Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda, “Abu Sanabil telah berdusta.” Apakah ini sikap keras ataukah sikap lembut?<br />
Penanya: Iya, itu sikap keras.<br />
Syaikh: Siapa yang melakukan? Yang melakukan adalah bapak kelemahlembutan. (Allah berfirman :<br />
وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ<br />
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159)<br />
Jika demikian, prinsip lemah lembut bukanlah kaidah yang berlaku menyeluruh sebagaimana telah kita sepakati baru saja. Hanya saja hendaknya seorang muslim mampu menempatkan kelemahlembutan pada tempatnya dan sikap keras pada tempatnya. Demikian pula contohnya, sebagaimana dalam Musnad Imam Ahmad, ketika beliau – shollallohu ‘alaihi wa sallam – berkhutbah berdirilah seorang sahabat dan berkata kepada beliau, “Apa yang Allah kehendaki dan yang engkau kehendaki wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda, “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?! Katakanlah, apa yang Allah kehendaki saja.” Apakah ini sikap keras atau lembut?</p>
<p>Penanya: Gaya bicara Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam -.<br />
Syaikh: Jawaban semacam ini, aku sebut usaha untuk mengelak. Karena engkau tidak menjawabku sebagaimana jawabanmu sebelumnya ketika aku katakan kepadamu tentang Abu Sanabil bahwa Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – berkata, “Abu Sanabil telah berdusta.” Apakah ini sikap keras ataukah sikap lembut? (Engkau jawab) ini sikap keras.</p>
<p>Penanya: Ini sikap keras, iya.<br />
Syaikh: Dan ini yang kedua.</p>
<p>Penanya: Tapi beliau hanya menjelaskan kepadanya dengan perkataan, “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?”<br />
Syaikh: Ini juga usaha untuk mengelak – semoga Allah memberkahimu –. Aku tidak bertanya kepadamu apakah beliau menjelaskan atau tidak. Aku bertanya kepadamu, sikap keras atau sikap lembut? Kenapa sekarang metodemu berubah dalam menjawab? Tadi engkau tidak mengatakan, beliau menjelaskan kepadanya, “Abu Sanabil telah berdusta.” Beliau memang menjelaskan. Akan tetapi apakah penjelasan ini dengan gaya yang lemah lembut – sebagaimana telah kita sepakati bahwa kelemahlembutan adalah kaidah (dalam dakwah) – ataukah pada penjelasan itu ada sikap keras? Engkau menjawab dengan tegas, padanya ada sikap keras. Dan sekarang, apa yang terlewat dari apa yang nampak dalam pertanyaan kedua?</p>
<p>Penanya: (Tentang) pertanyaan kedua, beliau tidak menyatakan dia orang yang berdusta, beliau bersabda, “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah.”<br />
Syaikh: Allahu Akbar, ini pengingkaran yang lebih jelas – semoga Allah memberkahimu.</p>
<p>Salah seorang hadirin berkata: Wahai Syaikh kami, (Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Seburuk-buruk penceramah adalah engkau.” Dalam riwayat Muslim.<br />
Syaikh: Iya, dalam kisah yang lain. Engkau ingat hadits ini? Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka dia telah lurus. Dan barangsiapa bermaksiat kepada keduanya maka dia telah tersesat. Beliau bersabda, “Seburuk-buruk penceramah adalah engkau.” Ini sikap keras atau lembut?</p>
<p>Penanya: Iya, keras.<br />
Syaikh: Yang penting – semoga Allah memberkahimu – di sana ada metode lemah lembut dan ada metode keras. Sekarang, setelah kita sepakat bahwa di sana tidak ada satu kaidah yang berlaku untuk semuanya, berlaku selamanya; bersikap lembut, lembut, dan lembut selamanya, atau bersikap keras, dan keras selamanya.</p>
<p>Penanya: Iya.<br />
Syaikh: Jadi, terkadang bersikap lembut dan terkadang bersikap keras. Sekarang, ketika Salafiyun semuanya dituduh bersikap keras, apakah engkau tidak melihat bahwa Salafiyun – dibandingkan dengan kelompok, jamaah dan golongan lain – memberikan perhatian untuk mengetahui hukum-hukum syar’i dan mengajak manusia kepadanya dengan perhatian yang lebih besar dari yang lain?</p>
<p>Penanya: Tidak diragukan.<br />
Syaikh: Tidak diragukan – semoga Allah memberkahimu. Jika demikian, dengan sebab perhatian yang melebihi perhatian (kelompok) lain dari sisi ini, kelompok lain menganggap amar makruf dan nahi munkar (yang dilakukan) meskipun disertai dengan kelemahlembutan, sebagai sikap keras. Bahkan sebagian mereka mengatakan, sekarang bukanlah zamannya. Bahkan sebagian mereka bersikap melampaui batas dan mengatakan, pembahasan masalah tauhid pada hari ini akan memecah belah barisan. Jika demikian – semoga Allah memberkahimu – maka hal yang ingin aku capai bersamamu adalah bahwa permasalahan ini merupakan permasalahan yang nisbi (relatif). Yakni, seseorang yang tidak memiliki semangat dalam berdakwah, dan secara khusus dalam masalah furu’ yang mereka namakan sebagai kulit atau perkara sekunder, niscaya akan menganggap suatu pembahasan meskipun disertai dengan metode yang baik, akan dianggapnya sebagai pembahasan yang keras dan tidak pada tempatnya. Tidak pantas bagimu – sedangkan engkau adalah seorang salafi seperti kami – untuk menyebarkan di tengah-tengah manusia – meski mereka berjumlah sedikit pada saat ini – dan menyebutkan bahwa Salafiyun adalah orang-orang yang keras. Karena kita telah sepakat hanya sebagian mereka saja yang bersikap keras. Dan hal ini juga terjadi walaupun di kalangan para sahabat; di antara mereka ada yang bersikap lembut dan di antara mereka ada yang bersikap keras. Barangkali engkau mengetahui kisah seorang Arab badui yang ingin kencing di masjid. Lalu apa yang diinginkan oleh para sahabat? Mereka ingin memukul orang tersebut. Apakah ini sikap lembut atau keras?</p>
<p>Penanya: Ini sikap keras.<br />
Syaikh: Sikap keras. Akan tetapi, apa yang Rasulullah katakan kepada mereka? (Beliau mengatakan), “Biarkan dia.” Jika demikian, terkadang tidak ada yang selamat dari sikap keras kecuali hanya sedikit manusia. Akan tetapi yang benar, bahwa kaidah dalam berdakwah adalah hendaknya dakwah didasari atas hikmah dan nasihat yang baik. Sedangkan termasuk hikmah adalah meletakkan sikap lembut pada tempatnya dan sikap keras pada tempatnya. Maka jika kita menyifati sebaik-baik kelompok islam dengan sikap keras secara mutlak, yang mana kelompok itu memiliki keistimewaan dari kelompok lain berupa semangatnya untuk mengikuti al-Kitab, as-Sunnah dan jalan yang ditempuh as-Salaf ash-Shalih, maka aku menganggap ini bukanlah sikap yang adil sama sekali. Bahkan ini sama sekali tidak termasuk syariat Islam. Adapun jika dikatakan, di antara mereka ada yang bersikap keras, maka siapa yang bisa mengingkari. Selama di kalangan para sahabat masih ada yang bersikap keras tidak pada tempatnya, maka sangat lebih dimungkinkan lagi adanya orang yang bersikap keras di kalangan orang belakangan seperti kita ini. Kemudian, sekarang kita membicarakan seorang individu tertentu. Anggaplah dia adalah orang yang sangat lembut dan halus. Apakah dia akan selalu selamat dari menggunakan sikap keras yang tidak pada tempatnya?</p>
<p>Penanya: Tidak selalu.<br />
Syaikh: Jika demikian – semoga Allah memberkahimu – perkara ini telah selesai. Dan kewajiban kita tidak lain adalah agar saling menasihati. Jika kita melihat seseorang yang memberi nasihat, wejangan dan peringatan dengan sikap keras yang tidak pada tempatnya, maka kita ingatkan dia, mungkin dia memiliki sisi pandang (sehingga dia bersikap keras). Jika dia ingat maka semoga Allah membalas kebaikan untuknya. Namun jika dia memiliki sisi pandang tertentu, maka kita dengarkan hal itu darinya dan selesailah urusannya.</p>
<p>Sumber : Silsilah Huda wan Nuur No.Kaset 595 , transkrip didapat dari http://www.kulalsalafiyeen.com/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elilmu.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elilmu.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elilmu.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elilmu.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elilmu.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elilmu.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elilmu.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elilmu.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elilmu.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elilmu.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elilmu.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elilmu.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elilmu.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elilmu.wordpress.com/282/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=282&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elilmu.wordpress.com/2010/12/04/dakwah-salaf-dakwah-yang-keras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11ab2fdcebda9e092a3267fe41cb53d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GERBANG HIDAYAH (1)</title>
		<link>http://elilmu.wordpress.com/2010/01/28/gerbang-hidayah-1/</link>
		<comments>http://elilmu.wordpress.com/2010/01/28/gerbang-hidayah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 14:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elilmu.wordpress.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Fitrah Bekal Kebenaran Fitrah adalah sesuatu yang dirakit oleh Allah pada diri manusia, dari sananya setiap jiwa diberi fitrah sebagai bekal baginya untuk mencari kebenaran. Karena Allah mengetahui bahwa manusia itu lemah pada semua lini, membutuhkan Khaliqnya, selalu bertopang kepada-Nya dalam menjalani kehidupan ini. • Fitrah itu adalah Islam yaitu rasa penyerahan diri kepada Zat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=278&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Fitrah Bekal Kebenaran</strong></p>
<p>Fitrah adalah sesuatu yang dirakit oleh Allah pada diri manusia, dari sananya setiap jiwa diberi fitrah sebagai bekal baginya untuk mencari kebenaran. Karena Allah mengetahui bahwa manusia itu lemah pada semua lini, membutuhkan Khaliqnya, selalu bertopang kepada-Nya dalam menjalani kehidupan ini.<br />
• Fitrah itu adalah Islam yaitu rasa penyerahan diri kepada Zat yang Maha Kuasa&#8230;<br />
• Fitrah itu sebuah perasaan kerinduan terhadap kebenaran&#8230;<br />
• Fitrah itu sebuah keinginan yang mendalam untuk menjalankan perintah Allah danmenjauhi laranganNya&#8230;<span id="more-278"></span></p>
<p>Semua perasaan tersebut sekiranya hendak dilupakan atau berusaha dijauhkan dari ingatan, tetap akan melahirkan kehampaan dan kesunyian, akan datang perasaan cemas dan was-was, seakan-akan ada sesuatu yang kurang dan terasa ada sesuatu yang hilang.</p>
<p>Seringkali orang yang seperti ini -setelah pergi semua orang, duduklah ia dalam kesendiriannya, merasakan apa yang kurang pada dirinya. Ia perhatikan sekeliling dirinya, rumah yang ia bangun telah tepat rasanya memilih arsitek yang ahli, hingga pada pilihan paduan warna rumahnya. Ia perhatikan kendaraannya, rasanya tiga mobil yang sekarang parkir di garasi rumahnya sudah cukup membuktikan bahwa ia tidak kurang dalam hal itu.</p>
<p>Lalu ia perhatikan dirinya sendiri, ia lihat bajunya yang baru dipesan dari seorang perancang busana terkenal. Ia rasakan kesehatannya yang baru cek-up ke dokter pribadinya, semuanya sempurna dan semuanya tidak ada yang kurang. Tapi, perasaan apa yang itu yang telah menyelinap dalam dirinya?! Selidik punya selidik, kiranya ada perasaan sunyi yang harus diriuhkan, ada perasaan hampa yang harus diisi, ada perasaan kosong yang harus diramaikan. Dalam agama perasaan itu yang disebut fitrah Allah yang telah diletakkan dalam kalbu manusia. Perasaan yang tidak bisa dibuang.</p>
<p>&#8220;(Berpegang teguhlah dengan) fitrah Allah yang telah dirakit manusia dengannya, tidak ada perubahan pada penciptaan Allah . Itulah agama yang lurus &#8220;. [QS. ar-Rum:30]</p>
<p>Imam Al-Khatthabi berkata, &#8220;Setiap anak yang dilahirkan pada asal penciptaannya di atas fitrah, yaitu tabiat yang lurus dan perilaku yang selalu siap menerima kebenaran. Sekiranya dibiarkan begitu saja, niscaya fitrah itu akan tetap tumbuh. Karena kebenaran agama ini dibenarkan oleh akal, melencengnya banyak orang karena buruknya taqlid dan rusaknya lingkungan, sekiranya ia lepas dan selamat dari hal itu, niscaya ia tidak memiliki keyakinan melainkan keyakinan<br />
Islam&#8211;&#8221;</p>
<p>Dalam hadits diriwayatkan, Dari Abu Hurairah berkata,<br />
&#8220;Telah bersabda Nabi, &#8220;Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, atau Nashrani atau Majusi, bagaikan binatang yang melahirkan binatang, apakah engkau temui yang cacat hidungnya (berbeda dengan induknya) ?&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ibnu Hajar berkata, &#8220;Perkataan yang masyhur bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah Islam&#8221;.</p>
<p>Ibnu Abdil Barr berkata &#8220;(Makna) itulah yang dikenal di kalangan salaf. Dan telah sepakat ulama tafsir bahwa yang dimaksud dengan fitrah Allah adalah Islam.&#8221;</p>
<p>Fitrah ini yang dimaksud oleh Nabi sebagai keinginan untuk menganut ajaran yang hanif, lurus tidak ada penyelewengan, bersih dengan tauhid dan tidak kotori oleh debu syirik.</p>
<p>Dari &#8216;Iyadh bin Himar Al-Mujasyi&#8217;i bahwasanya Rasulullah berkhutbah suatu hari dan berkata, &#8220;Ketahuilah! Rabbku memerintahkanku hari ini untuk mengajarkan kepada kalian apa yang kalian tidak ketahui, (dan bahwasanya Dia berkata),<br />
&#8220;Setiap harta yang aku  berikan kepada seorang hamba halal, dan Aku ciptakan semua hambaku dalam keadaan hanif, hanya syaiakan mendatangi mereka lulu merenggut mereka dari agama mereka&#8221;. (HR. Muslim)</p>
<p>Dan hanif tersebut adalah ajaran semua Nabi dan rasul, ituiah ajaran hanifan musliman (lurus dan menyerahkan diri). Allah berfirman;</p>
<p>&#8220;Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik&#8221;. [QS. AIi Imran:67]</p>
<p>Allah berfirman;<br />
&#8220;Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah? Sedang diapun mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambiI Ibrahim menjadi kesayanganNya &#8220;. [QS.an-Nisa: 125]</p>
<p>Fitrah inilah yang harus selalu disiram oleh hamba dengan ilmu dan selalu ia pupuk dengan hikmah, sampai ia memperoleh hasilnya, ia tuai hasil panennya dan memetik buahnya pada setiap masa. Jika tidak, maka fitrah tidak akan berguna, memperbaiki dinamo yang rusak dalam mesin atau umpama batang yang tumbuh dan tidak berbuah, atau seumpama tunggul besar yang tidak bermanfaat habis dimakan oleh masa.</p>
<p>Fitrah yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba bagaikan mata yang sehat. Akan tetapi, apa manfaat mata meskipun ia sehat, tetapi tidak ada cahaya yang menyertainya. Apa guna mata dalam kegelapan malam?! Maka cahaya yang diperlukan oleh fitrah itu diaiah Islam yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Fitrah yang belum disinari cahaya Al-Quran dan Sunnah, maka ia masih dalam  kegelapan, ia masih belum bisa melihat, ia masih dalam lembah kebodohan. Itulah yang disebut oleh Allah dalam sebuah hadits, </p>
<p>&#8220;Wahai anak Adam, semua kalian sesat kecuali orang yang Kuberi hidayah, maka mintalah hidayah kepadaKu, niscaya Aku beri hidayah!&#8221;. (HR.Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Itulah yang dimaksud oleh Allah tentang perihal Nabi-Nya;</p>
<p>&#8220;Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk&#8221;. [QS. ad-Dhuha: 7]</p>
<p>Dalam hadits &#8220;setiap anak dilahirkan atas fitrah&#8221; , bahwa seseorang masih dalam kesesatan dan melenceng dari jalan kebenaran serta menjadi Yahudi atau Nashrani, sekalipun modal fitrah masih ia miliki. Hal ini menunjukkan bahwa fitrah saja belum cukup untuk meraih kebenaran. Maka, berhati -hatiIah bagi orang yang hendak mencari kebenaran dengan menjadikan fitrahnya sebagai  timbangan kebenaran. Mengambil suatu ajaran jika sesuai  dengan hatinya<br />
dan meninggalkan sebuah pemahaman karena tidak sesuai dengan hatinya.<br />
Ibnu Rajab berkata &#8220;Sesungguhnya Allah menciptakan anak Adam dan memfitrahkan mereka dalam menerima Islam, membuat mereka cenderung kepadanya dan memudahkan mereka untuk menerimanya dengan keinginan yang kuat. Akan tetapi, harus-Iah seorang hamba mempelajari Islam sambil berupaya merealisasikannya. Karena ia dalam  kebodohan sebelum belajar dan tidak mengetahui apa-apa, sebagaimana yang difirmankan  oleh Allah ,</p>
<p>&#8220;Dialah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, tidak mengetahui suatu apapun&#8221;.[QS. an-Nahal:78]</p>
<p>Dan Allah berfirman kepada NabiNya,</p>
<p>&#8220;Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk&#8221;. [QS. ad-Dhuha:7]</p>
<p>Maksudnya Dia dapatkan engkau tidak mengetahui kitab dan hikmah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ,</p>
<p>&#8220;Begitulah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perkara Kami, sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu kitab dan juga tidak mengetahui iman&#8221;. [QS.as-Syura:52].</p>
<p>Manusia hakikatnya difitrahkan untuk menerima kebenaran. Tatkala Allah memberi hidayah kepada seseorang, la mudahkan baginya seseorang yang mengajarkan kebenaran kepadanya. Berarti ia telah memperoleh hidayah perbuatan, sebelumnya ia telah memperoleh hidayah kekuatan. Jika Allah ingin menelantarkannya, maka Allah utus orang yang akan<br />
merubah fitrahnya&#8221;. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 25/11, tahqiq: Mahir Yasin Fahal)</p>
<p>Hidayah kekuatan itu adalah fitrah yang Allah letakkan dalam hatinya sebagai kekuatan mencari hidayah dan hidayah perbuatan adalah Islam itu sendiri. Jika ia pergunakan dengan baik hidayah kekuatan, maka Allah akan anugerahkan kepadanya hidayah kedua yaitu hidayah ke dalam Islam yang benar.</p>
<p><strong>Bangun dari Kelalaian</strong></p>
<p>begitulah seorang muslim meiafadzkan kalimat perkalimat dari dua ayat dalam surat al-Fatihah tersebut. Artinya, &#8220;Tunjukilah kami jalan yang<br />
lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat&#8230;&#8221;, ia membacanya pada setiap rakaat dalam penghambaan dirinya kepada Allah. Begitu pentingnya hidayah itu sehingga ia harus memohon minimal tujuh belas kali dalam satu hari satu malam. Karena ia tahu bahwa ia sangat<br />
membutuhkan hidayah sejumlah napas yang keluar-masuk tubuhnya.<br />
Dan sebagaimana tubuhnya membutuhkan makanan dan minuman, hatinya juga membutuhkan hidayah sebagai makanan dan minumannya.<br />
Hidayah adalah nikmat yang di anugerahkan Allah kepada seorang hamba dari bilangan nikmat yang ada. Hidayah adalah sentuhan lembut Ilahi untuk mengantarkannya kepada pantai kebahagiaan&#8230;</p>
<p>la merupakan rengkuhan Ilahi agar tidak terjatuh ke dalam jurang kesalahan dan kesengsaraan&#8230;</p>
<p>la merupakan pengalihan kemauan seorang hamba yang penuh nafsu dan hawa kepada kehendak Dzat Yang Maha Kuasa, lalu Dia tidak  membiarkannya sendirian dalam mencari kebenaran, akan tetapi tangan-Nya yang menuntunnya dan mengambil ubun-ubunnya kepada<br />
arah yang la ridhai&#8230;</p>
<p>Orang yang baru timbul kesadarannya dalam menerima Islam, seperti orang yang terbangun dari tidur panjangnya atau seperti prang yang sadar dari mabuknya. </p>
<p>Ibnul Qayyim berkata: &#8220;Kesadaran merupakan kunci pertama kebaikan, sesungguhnya orang yang lalai dalam mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rabbnya dan lupa dengan bekal hari kepulangannya, seperti orang yang tidur bahkan ia lebih parah. </p>
<p>Orang yang berakal pasti mengerti janji dan ancaman Allah , paham balasan dalam melaksanakan perintah dan larangan, serta paham hukum dan kewajibannya. Akan tetapi hilangnya kesadaran dan adanya kelalaian &#8211; telah menghalangi seorang untuk memahami hakikat dan membuatnya lemah dalam mengejar ketertinggalan. Itulah kelalaian yang selama ini membuat ia belum sadarkan diri dalam pingsan yang berkepanjangan, condong dan empati dengan dorongan syahwat, hingga  kecenderungannya menguat dan ia terbenam dalam lumpur syahwat. Iapun dikuasai oleh tradisi dan pengaruh orang-orang yang tidak punya pekerjaan, telah meniru orang-orang yang menyia-nyiakan waktu.</p>
<p>Dalam ketidaksadarannya bersama orang-orang yang pingsan dan dalam mabuknya bersama orang-orang yang mabuk. Ketika mata hatinya telah terbuka, dengan satu pekikan dari </p>
<p>suara kebenaran, iapun sadar dan barulah terasa baginya seruan Allah.<br />
Jika demikian yang terjadi pada seorang hamba, maka hal itu pertanda baik&#8230;berarti jejak-jejak kasih sayang Allah sudah mulai tampak di halaman kalbunya, awan mahabbah dan kabut cinta Allah sedang datang berarak-arak menuju langit hatinya. Bersegeralah ia mengambil tempayan untuk menampung hujan hidayah, jangan biarkan ia berlalu dan meninggalkannya dalam kesendirian menyebabkan ia harus menunggu dan menunggu pada sebuah penantian yang tidak berkesudahan&#8230;</p>
<p><strong>Lokomotif Hidayah</strong></p>
<p>Banyak cara Allah agar membuat sprang hamba kembali kepada kebenaran, pulang ke kampung halaman setelah lama berpetualang melintasi lembah maksiat dan membelah padang pasir pengingkaran&#8230; sudah begitu jauh perjalanannya, kiranya fitrah juga yang dapat<br />
menjanjikan kebahagiaan yang hakiki bukan yang lainnya&#8230; kembali kepada Allah.</p>
<p>Ada seorang parewa ( Parewa adalah bahasa minang yaitu pemuda yang hidupnya bergeiimang dosa dan maksiat, akan tetapi masih memiliki iman dan rasa hormat kepada orang yang beragama) yang telah banyak melakukan dosa, diantaranya dia telah banyak membunuh orang sampai jumlah 99 orang. Tiba-tiba rasa kerinduan kepada kebenaran menghentak-hentak ubunnya, ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya.</p>
<p>Lalu pergilah ia bertanya kepada orang-orang tentang siapa orang yang bisa mencari jalan keluar bagi permasalahannya. Masyarakat menunjuk seorang ahli ibadah dan disarankan untuk bertanya kepadanya. Lalu ia bertanya perihal dosa yang ia lakukan, apakah masih  terbuka baginya pintu taubat dan hidayah?, ahli ibadah itu menjawab, &#8220;Tidak&#8221;. Mendengar<br />
jawaban itu, sang pemuda marah, maka ia lengkapkan menjadi seratus.<br />
Sekalipun dosa telah ia lakukan kembali, maksiat yang ia telah akui sebagai kesalahan sekarang terulang lagi, seperti luka lama yang telah tidak lagi bertaut. Meskipun demikian tidak membuatnya putus asa, lalu ia kembali mencari untuk kedua kalinya akan ahli ilmu yang benar-benar berilmu. Ditunjukkanlah kepadanya seorang yang berilmu. Ia berkata,<br />
&#8220;Tuan Guru, hamba telah membunuh 100 orang, yang terakhir bukan sembarangan orang, ahli ibadah yang di mata Allah ia jauh lebih mulia dari 99 orang yang telah hamba bunuh sebelumnya. Apakah pintu taubat itu masih terbuka bagiku?&#8221;. la menjawab, &#8220;Siapa yang dapat menghalangi<br />
antaramu dengari taubat?&#8221;. la angkat kepalanya seakan tidak percaya dari jawaban tersebut, berbinar wajahnya, menetes air matanya karena bahagia yang tidak tertanggungkan&#8230; lalu ia rangkul sang alim tersebut.<br />
Selesai sudah pengembaraannya&#8230;saatnya ia menghirup hari-hari bahagia, tidak akan ia ulang kembali tindakan-tindakan yang telah meletihkan dan menyengsarakannya. </p>
<p>&#8220;Akan tetapi, berangkatlah engkau ke negeri yang jauh, tempat orang-orang yang shalih tinggal, jangan kembali lags ke negerimu, karena negerimu, negeri yang tidak baik&#8221;, lanjut sang Alim. Iapun berangkat, bersamaan dengan langkah kakinya meninggalkan kampung halamannya bersamaan itu pula ia telah berazam dalam lubuk hatinya untuk hijrah dari semua amal buruk menuju amal baik. (HR Bukhari 6/512, Muslim no. 2766 dari Sa’ad bin Malik bin Sinan)</p>
<p>Kebanyakan orang menemukan hidayah, tatkala hatinya sedang tunduk, remuk- redam dengan suatu musibah yang sedang menimpanya. Mematahkan semua kesombongannya, meluluh-lantakkan ketidakpeduliannya selama ini terhadap Allah dan syariat-Nya. Ketika ia<br />
sudah berada di atas jurang kehancuran, Allah tarik tangannya lalu ia tuntun dengan kelembutan dan kasih sayangNya, seharusnya kehidupannya sudah hancur berkeping-keping, jiwanya berantakan, akan tetapi ia kembali kepada jalan Allah.</p>
<p>Orang ini seperti seorang prajurit pembelot dan pengkhianat yang telah kalah berperang melawan atasannya. Lalu dengan pakaian yang sudah lusuh, wajah kotor dan berdebu, luka-luka memenuhi sekujur tubuhnya, ia kembali menyerah, mengangkat kain putih tanda kalah. Mudah-mudahan dengan menyerahkan diri secara suka-rela sang atasan akan melepaskan dan memaahkan kesalahannya. Kadangkala Allah timpakan kepadanya penyakit yang menyebabkan ia terbaring lemas, berbilang hari bahkan bulan ia di atas kasur putih setelah puluhan tahun ia melawan Allah dengan maksiat bermodalkan kesehatan yang ia sangka akan abadi untuk selamanya. </p>
<p>Kadangkala Allah menundukkan kesombongan dengan mencabut kekayaan yang ia merasa memiliki selama ini, kesadaran muncul setelah api besar membakar istananya dan menghanguskan segala kekayaan yang ia peroleh dengan bercucur keringat, sebagaimana dulu ia cucurkan keringat, hari ini ia juga ia telah cucurkan air mata.</p>
<p>Kadangkala Allah memaksanya untuk bersujud dan membaluri keningnya dengan tanah setelah ia kehilangan orang-orang yang ia cintai. Sudahkah anda pernah mendengar cerita seorang suami pedagang bensin, ketika sedang menuangkan bensin ke dalam tangki motor salah seorang pembeli, tiba-tiba jatuh puntung rokok ke dalam bensin tersebut, lalu membakar dirinya dan rumah beserta orang-orang yang ada di dalamnya, dari anak dan istri yang sangat ia cintai.</p>
<p>Kadangkala Allah memberi hidayah kepada seseorang, setelah ia terjerat dalam sebuah kasus korupsi, setelah ia merasakan sempitnya penjara dan perihnya kehilangan jabatan, ia tinggalkan dunia dan ia kembali kepada Allah&#8230;</p>
<p>Mereka-mereka itu adalah orang-orang beruntung, mereka menemukan jalan kembali, setelah diberi teguran oleh Dzat Maha Pencipta.<br />
Ada lagi satu golongan orang yang jauh lebih mulia dari orang-orang di atas dalam perolehan hidayah, yaitu orang yang dihentikan perjalanannya oleh kerinduan kepada kebenaran. Seperti perjalanan ikan salmon melintasi sungai, menyeberangi lautan dan mengarungi samudera, melintasi benua. Telah bermil-mil perjalanan ia tempuh, telah habis pula kebanyakan umurnya dalam perjalanan jauh itu. Ketika sudah tiba masanya, ada rasa kerinduan memanggilnya untuk pulang ke tempat asalnya, sekalipun banyak aral yang merintangi kepulangannya, sekalipun arus deras yang akan ia hadapi, ia tetap bersikukuh untuk pulang, kembali ke fitrah sebagaimana ia dilahirkan oleh ibunya.</p>
<p>Khalid bin Walid, seorang ksatria tanpa tanding, panglima yang tidak terkalahkan, hamba Allah yang tawadhu&#8217; (rendah hati), pemilik jiwa besar. Semuanya tentu tahu apa yang pernah ia lakukan terhadap kaum muslimin di perang Uhud, dengan ketajaman pandangannya ia dapat merubah kekalahan menjadi kemenangan untuk Quraisy, sebagai kemenangan pertama dan terakhir bagi mereka. Hampir pada semua tempat di mana ia berada, dia memasang permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin. </p>
<p>Sampai akhimya, keinginan untuk pulang itu begitu kuat, beberapa hari sebelum penaklukan Mekkah ia mengajak kawan karibnya &#8216;Amr bin Ash berangkat menuju Madinah untuk menyatakan keislamannya. Berangkatlah mereka dengan azam yang telah kuat di hati mereka, sebab mereka adalah para kesatria Quraisy. Setibanya di Madinah mereka utarakan keinginannya, ketika Rasulullah mengulurkan tangannya kepada Khalid, ia tarik kembali tangannya, lalu ia berucap, &#8220;Dengan syarat, wahai Nabi Allah! Agar Allah menghapuskan segala kesalahanku semasa Jahiliah&#8221;.</p>
<p>Rasulullah tersenyum dan berkata, &#8220;Apakah engkau belum tahu, wahai Khalid?!, Sesungguhnya Islam menghapuskan semua kesalahan sebelumnya&#8221;.</p>
<p>Adapun Ikrimah bin Abu Jahal &#8211; ia salah satu pemuda Quraisy yang paling keras perlawanan dan permusuhannya kepada Nabi, setelah Mekkah dikuasai oleh Rasulullah, ia mencoba lari dari kenyataan, ia seberangi lautan, ia lintasi padang pasir dalam kesendiriannya, ia coba tinggal di negeri orang, ia coba menahan dirinya dari keinginan pulang kepada kebenaran. Telah ia coba, tapi panggilan itu begitu kuat, keinsafan menghinggapi hari-harinya, maka ia coba untuk melangkahkan kaki pulang menyatakan kelemahan diri dan mengantarkan kepasrahan jiwa.<br />
Disebutkan oleh lbnu Hajar , &#8220;Ketika Ikrimah dalam pelariannya, ia sedang di atas bahtera, tiba-tiba datang badai, lalu orang-orang yang berada dalam bahtera itu berteriak, </p>
<p><strong>&#8220;Ikhlaskan niat kalian kepada Allah, sesungguhnya Tuhan (berhala) kalian tidak mendatangkan manfaat sedikitpun&#8221;.</strong></p>
<p>Sampai badai tersebut menjadi tenang, lalu ia berkata, &#8220;YaAllah, jika keikhlasan yang menyelamatkanku di lautan, tentu Dia juga yang akan menyelamatkanku di daratan. Demi Allah , aku berjanji, jika aku selamat dari kejadian ini, aku akan mendatangi Muhammad -Shallallohu ‘alaihi wa<br />
sallam- dan aku letakkan tanganku di atas tangannya&#8221;.(Al Ishabah 4/538)</p>
<p>Ada suatu golongan dalam perolehan hidayah, mereka memperolehnya dengan proses pencarian yang cukup melelahkan, berpindah dari satu ajaran kepada ajaran lain, dari agama kepada agama lain, akhirnya dia memperoleh apa yang inginkan. Contoh yang tepat untuk golongan ini seperti Salman AI-Farisi danWaraqah bin Naufal.</p>
<p>Yang lebih hebat lagi adalah golongan yang sudah dalam katagori mati, tidak ada harapan, tidak ada denyut kebenaran dalam hatinya, lalu rahmatAllah menda-huluinya, iapun memperoleh hidayah. Contoh dari golongan ini adalah Umar bin Khattab . Padanya diturunkan ayat dalam suratAl-An&#8217; am, Allah berfirman;</p>
<p>&#8220;Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?&#8221;. [QS. al-An'am:122]</p>
<p>Ini permisalan dari Allah terhadap seorang mukmin yang awal mula hatinya telah mati dalam kesesatan dan binasa dalam kebingungan, lalu Allah hidupkan dan segarkan kembali dengan iman dan Allah beri petunjuk untuk mengikuti rasulNya. Dia masukkan dirinya kepada agama penyerahan diri. Saat itu, ia telah mulai mengerti hal-hal yang bermanfaat dan jauh dari hal yang mudharat, berusaha untuk melepaskan diri dari kemurkaan, matanya mulai mengenal kebenaran yang sebelumnya ia buta, ia sudah mulai belajar yang sebelumnya ia tidak mengetahui, ia sudah mulai belajar untuk mengikuti, sampai ia memperoleh cahaya, dan dengan cahaya itu ia dapat menggunakannya untuk menerangi perjalanannya kepada Allah, di tengah kegelapan manusia. (Lihat Tafsir Ibn Katsir (2/231), dan Ighastul Lahfan, Ibnul Qayyim hal. 26)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elilmu.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elilmu.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elilmu.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elilmu.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elilmu.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elilmu.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elilmu.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elilmu.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elilmu.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elilmu.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elilmu.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elilmu.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elilmu.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elilmu.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=278&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elilmu.wordpress.com/2010/01/28/gerbang-hidayah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11ab2fdcebda9e092a3267fe41cb53d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hakikat Kehidupan</title>
		<link>http://elilmu.wordpress.com/2010/01/20/hakikat-kehidupan/</link>
		<comments>http://elilmu.wordpress.com/2010/01/20/hakikat-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 14:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elilmu.wordpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[HAKIKAT KEHIDUPAN Cerita Kehidupan Ketika seseorang sudah mulai beranjak dewasa, ketika akalnya mulai sempurna, mulailah ia berpikir tentang hakikat kehidupan, yaitu kehidupan yang sedang ia jalani sebagaimana yang dijalani juga oleh yang lainnya. Bumi ini telah penuh sesak dengan manusia, semuanya silih berganti, ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang lahir dan ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=276&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><strong>HAKIKAT KEHIDUPAN</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Cerita Kehidupan</strong></p>
<p>Ketika seseorang sudah mulai beranjak dewasa, ketika akalnya mulai sempurna, mulailah ia berpikir tentang hakikat kehidupan, yaitu kehidupan yang sedang ia jalani sebagaimana yang dijalani juga oleh yang lainnya. Bumi ini telah penuh sesak dengan manusia, semuanya silih berganti, ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang lahir dan ada yang mati. Jika hari ini berkuasa seorang raja, besok akan berkuasa lagi raja lainnya. Sekiranya hari ini ada pengangkatan seorang menteri atau seorang jenderal, dahulunya kita juga mendengar bahwa di negeri anu telah diangkat pula seorang menteri atau panglima. Yang tetap itu hanya peran manusia dalam kehidupan ini, sedangkan yang silih berganti adalah para pelaku dan yang memeraninya.</p>
<p>Peran kehidupan itu ada yang baik dan ada yang buruk, hanya saja manusia disuruh untuk memilih peran baik bukan peran buruk!</p>
<p>&#8220;Itu adalah umat yang telah Ialu, baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan&#8221;.[QS: al-Baqarah: 141]<span id="more-276"></span></p>
<p>Pada masa Nabi Musa –‘Alaihissalam- orang-orang disibukkan dengan kekuasaan Fir&#8217;aun, bahan cerita orang terfokus pada kekayaan Qarun dan decak kagum orang hanya pada arsitektur bangunan yang dirancang oleh Haman. Akan tetapi, mana cerita kehidupan itu sekarang ini?! Semuanya sirna dan punah, yang kita temukan hanya cerita pada lembaran kitab-kitab suci. Dan apa yang tersisa dari sejarah kepongahan tersebut?! Yang tersisa hanya bekas-bekasnya saja.</p>
<p>Dari sepanjang perjalanan hidup manusia yang beragam ini, baik pada masa kekuasaan orang-orang yang shalih maupun dalam cengkraman orang-orang thalih, Allah tetap menjaga alam ini, memelihara bumi dan dunia sekitamya, dalam keseimbangan yang berkesinambungan, dalam keindahan yang menakjubkan dan ciptaan yang berjenis dan berpasang-pasangan. Adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, langit dan bumi, semuanya itu pertanda adanya pencipta. Salah seorang Badui jahiliah berkata, &#8220;Lautan yang berombak dan langit yang berbintang serta bumi yang berlembah, bukankah semua itu menunjukkan adanya Sang Pencipta ?!&#8221;</p>
<p>Begitu besar penciptaan langit dan bumi beserta isinya, memberi pengertian kepada kita bahwa Allahmenciptakannya bukan sekedar bermain-main. Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?&#8221; [QS. al-Mu’minun: 115]</p>
<p>&#8220;Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?&#8221; [QS. al-Qiyamah: 36]</p>
<p>&#8220;Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenamya kehidupan, kalau mereka mengetahui&#8221;. [QS. al-Ankabut: 64]</p>
<p>Sekiranya kehidupan yang penuh keseimbangan ini tidak diciptakan untuk bersenda gurau,lalu untuk apa Allah ciptakan?! Apa tugas manusia ? Apakah mereka hanya sekedar makan, minum, menikah dan memiliki keluarga dan mempererat suku saja ?! Atau ia hidup dalam tidak bertujuan sebagaimana ia mati tidak bertujuan ?! tanah terakhir yang diletakkan oleh orang pada kuburannya, itu pula akhir dari cerita kehidupannya ?!</p>
<p>Bagaimana yang kaya dengan kezhalimannya, bagaimana yang berkuasa dengan kediktatorannya?! Apakah mereka dibiarkan begitu saja?! Bagaimana pula si miskin dengan kefakirannya atau rakyat jelata dengan penderitaan mereka?! Kapan mereka dapat kebahagiaan pula?! Bagaimana pula dengan para nabi dan rasul, para ulama dan ahli ibadah yang terusir dan belum memperoleh kebahagiaan?!</p>
<p>Sekiranya dunia ini diciptakan dengan keadilan Sang Pencipta, tentu balasan baik atau buruk dengan keadilanNya juga?! Sekiranya dunia ini mampu Dia ciptakan dari asal yang tidak ada, berarti Dia pula mampu untuk membalas kebaikan dengan kebaikan dan keburukandengan keburukan.</p>
<p>&#8220;Dan setiap mereka semuanya akan dikumpukan lagi kepada Kami. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, Supaya mereka dapat makan dari buahnya,dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah- manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edamya&#8221;. [QS. Yasin:32-40]</p>
<p>Dan Allah berfirman,</p>
<p>“Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: &#8220;Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?&#8221; Katakanlah: &#8220;la akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk.Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu&#8221;. Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? benar, Dia berkuasa. dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui&#8221;. [QS.Yasin: 78-81]</p>
<p>Tujuan Hidup</p>
<p>Rasanya semua orang sepakat dengan tujuan hidup yaitu mencari dan menggapai kebahagiaan. Semua manusia ingin hidupnya bahagia, dan semua tahu bahwa untuk mencapai kebahagiaan itu perlu pengorbanan. Hanya saja, manusia banyak salah mencari jalan kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang ia sangka di sana ada pantai kebahagiaan, padahal itu adalah jurang kebinasaan, itu hanya sebatas fatamorgana kebahagiaan, bukan kebahagiaan yang hakiki. Celakanya lagi, semakin dilalui jalan fatamorgana tersebut semakin jauh pula ia dari jalan kebahagiaan hakiki, kecuali ia surut kembali ke pangkal jalan.</p>
<p>Banyak orang menyangka kebahagiaan ada pada harta, karenanya ia berupaya mencari sumber-sumbernya dengan berletih dan berpeluh. Setelah ia peroleh harta tersebut, hatinya tetap gundah dan perasaan masih gelisah!! Ada saja yang membuat hati itu gelisah, kadang- kadang munculnya dari anak-anaknya, kadang-kadang dari istrinya atau tidak jarang juga<br />
datang dari usaha itu sendiri.</p>
<p>Banyak pula yang menyangka bahwa pangkat dan kekuasaan adalah kebahagiaan. Ketika dilihat mereka yang berkuasa dan bertahta, secara lahir mereka begitu tampak bahagia hidupnya! Pergi dijemput pulang diantar, ketika ia berkehendak tinggal memesan, perintahnya tidak ada yang menghalangi!! Akan tetapi setelah diselidiki lebih mendalam, kita masuk menembus dinding istananya, akan terdengar keluhkesahnya, dalam harta yang banyak itu terdapat jiwa yang rapuh. Jadi apa kebahagiaan yang sebenarnya? Apa kebahagiaan sejati yang seharusnya dicari oleh manusia? Siapa yang sebenarnya orang yang berbahagia? Apa sarana untuk mencapainya?</p>
<p>Manusia diciptakan oleh Allah , bukan mereka yang menciptakan diri mereka, tentu yang paling tahu tentang seluk-beluk manusia termasuk tentang sebab bahagia atau sebab sengsara adalah Dia subhanahu wa ta&#8217; ala bukan manusia. Sama halnya dengan sebuah produk, sekiranya hendak mengetahui hakikat produk tersebut tentu ditanyakan kepada pembuatnya, bukan kepada produk itu sendiri. Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui&#8221;. [QS. at-Mulk:14]</p>
<p>Ketika Al-Quran ditadabburi dan syariat Islam dikaji, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah dengan mengaplikasikan penghambaan diri kepada Allah &#8230;Orang yang bahagia adalah orang yang telah berhasil menjadi hamba Allah &#8230; Sarana kebahagiaan adalah semua sarana yang telah disediakan olehNya dalam meniti jalan penghambaan diri kepada Allah.</p>
<p>Karena penghambaan diri inilah sebab diciptakannya manusia dan jin.. karena ‘ubudiyah kepada Allah ditegakkannya langit dan dibentangkannya bumi&#8230; karena penghambaan inilah diturunkannya kitab dan diutusnya rasul&#8230;</p>
<p style="text-align:left;">Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku&#8221;.[QS.az-Zariat:56]</p>
<p>Orang yang berpaling dari penghambaan diri ini dialah orang yang sengsara, Allah berfirman;</p>
<p>&#8220;Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta&#8221;. [QS. Thaha: 124]</p>
<p>&#8220;Untuk Kami beri cobaan kepada mereka dan barang-siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat&#8221;. [QS. al-Jin:17]</p>
<p>Allah telah menentukan taqdir semua makhluk dan tidak ada yang dapat merubah taqdir selainNya. Allah tentukan kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kesengsaraan, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan. Manusia tidak bisa melawannya, sekiranya Allah telah menentukan kemiskinan pada seseorang, maka tidak ada yang mengkayakannya, ketika Allah telah menentukan kepadanya kesengsaraan, maka tidak ada satupun yang dapat membahagiakannya. Kalaulah begitu, kemana manusia hendak lari?! Kemana manusia hendak berteduh dan bernaung dari taqdir yang ia tidak memiliki daya dan upaya untuk merubahnya kecuali atas izinNya?! Kemana manusia hendak bersandar dari sesuatu urusan yang tidak di tangannya?!</p>
<p>Manusia yang berakal tentu akan bernaung kepada Zat yang telah mentaqdirkan segala sesuatu, dalam naungan-Nya ia akan merasakan ketenangan, dalam menyandarkan diri kepadaNya akan ia peroleh kebahagiaan, dalam kepasrahan diri kepadaNya akan sirna segala kecemasan dan kesedihan. Bagaimana ia tidak bahagia, bukankah jejak-jejak kasih sayang Allah begitu tampak dalam taqdir kehidupannya?! Bagaimana ia tidak tenang, bukankah semua taqdir yang ia suka atau<br />
yang ia benci, merupakan sarana untuk menggapai ridho dan cintaNya?</p>
<p>Dari mana kesedihan masuk ke dalam dirinya atau rasa takut menyelimutinya, karena sebelumnya ia telah diajarkan tentang cara menghadapinya, bersabar ketika sengsara dan beryukur ketika bahagia, sehingga sengsaranya tidak membawa kepada keputusasaan dan senangnya tidak membawanya kepada kesombongan dan kecongkakan. Syaikhul Islam Ibnu Taymiah mengungkapkan hakikat tersebut yang berlaku pada dirinya, beliau berkata,</p>
<p>&#8220;Apa yang dapat dilakukan oleh musuh-musuhku ?! Surga ada di dadaku, kemanapun dan dimanapun aku, ia tetap bersamaku!! Sekiranya mereka memenjarakanku, maka penjara bagiku adalah kholwat. Sekiranya mereka mengusirku, usiran itu bagiku menjadi tamasya. Sekiranya mereka membunuhku, terbunuhnya diriku adalah syahid di jalan Allah&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">
Bahkan Nabi Muhammad -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- sebagai manusia yang paling sempurna ubudiahnya kepada Allah, ketika Allah telah mentaqdirkan sesuatu yang berat dalam dakwah beliau, yaitu dua orang yang selama ini sebagai pembela dan penopang dakwah beliau, Khadijah –radhiyallohu ‘anha- istri beliau dan Abu Thalib paman beliau, telah meninggal dunia. Membuat kaum Quraisy meningkatkan permusuhan mereka kepada beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- dan memberi ultimatum untuk menghentikan dakwah beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam-, bahkan telah berani pula mengusir beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- dari Mekkah.</p>
<p>Berangkatlah beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- ke Thaif, berharap pembelaan dan bantuan.Kiranya bukan pembelaan yang beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- dapat dan bukan bantuan yang beliau peroleh, tapi malah cacian dan cemoohan, bahkan usiran oleh anak-anak dan wanita-wanita di sana, sedangkan beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- seorang utusan Allah:</p>
<p style="text-align:left;">
Allah yang memiliki langit dan bumi. Mereka telah melukai, melempar beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- dengan batu hingga luka kaki beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam-, sebagaimana sebelumnya mereka telah melukai hati dan perasaannya. Belum sampai di situ malaikat gunung Akhsyabain meminta izin kepadanya untuk menimpakan gunung tersebut kepada mereka, sebagai tanda bahwa beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- bukan sendirian.</p>
<p>Bertambah sedih beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam-, karena yang beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- inginkan bukanlah balas dendam atau kepuasan diri, yang beliau -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- inginkan hanya menampakkan bukti penghambaan diri kepadaNya, hal itu nampak betul dari do’a beliau panjatkan kepadaNya,</p>
<p>&#8220;Ya Allah , kepadaMulah daku keluhkan lemahnya kekuatanku, sedikitnya hilafku, hinanya diriku di mata manusia. Wahai Zat yang paling Pemurah ! Engkau-lah Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Rabbku! Kepada siapa Engkau hendak titipkan diriku?! Apakah kepada orang yang jauh yang tidak peduli dengan diriku atau engkau hendak serahkan perkara diriku kepada musuh?!</p>
<p>Meskipun begitu, selagi Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli!! Akan tetapi pengampunan-Mu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya wajahMu -yang telah menerangi semua kegelapan, dengannya berjalan perkara dunia dan akhirat- dari turunnya murkaMu kepadaku atau jatuh kepadaku kebencianMu, hanya kepadaMu pengaduanku sampai Engkau ridho, dan tidak ada daya dan upaya kecuali denganMu &#8220;.</p>
<p>Al-Quran menyebutkan bahwa orang berbahagia adalah orang yang menjalankan perintah Allah, Allah berfirman,<br />
&#8220;Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu&#8217; dalam sholatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kernaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam ha! Ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui Batas. Dan orang-orang yang mernelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang<br />
yang memelihara sholatnya&#8221;. [QS. al-Mukminun: 1 -9]</p>
<p>Dan Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Alif laam miim. Kitab (AI Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (AI-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung&#8221;. [QS. al-Baqarah: 1-5]</p>
<p>Sebaliknya Allah menyebutkan bahwa orang yang melanggar perintahNya atau merekalah orang yang merugi, Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi&#8221;. [QS. al-Ankabut: 52]</p>
<p>&#8220;(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan AIlah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi&#8221;. [QS. al-Baqarah : 27]</p>
<p><strong>Beban Amanah</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong></strong><br />
Allah menciptakan manusia pada kehidupan dunia ini untuk sebuah tujuan yang sangat mulia. Dia tundukkan semua alam untuk mereka, darat dan lautan, bumi dan langit, gunung dan lembah, binatang dan tumbuhan. Itu semua agar manusia siap untuk menunaikan tujuan<br />
tersebut. Kiranya tujuan sangat besar, tugas sangat sukar dan amanah yang akan dipikul sangat berat. Pantas saja, sebelumnya tidak ada yang mau memikul amanah tersebut dari langit yang tinggi, gunung yang menjulang atau bumi yang terbentang, semuanya menyampaikan<br />
keengganannya, kecuali hanya manusia, dan mereka itu bodoh dan zhalim. Allah menceritakan tentang perihal tersebut,</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Kami telah sampaikan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh &#8220;. [QS. al-Ahzab: 72]</p>
<p>Apa gerangan amanah yang telah diikrarkan itu? Mengapa manusia disifati dengan bodoh dan zhalim? Amanah itu adalah Islam dan peraturanNya, amanah itu adalah janji kepatuhan kepada Allah. Ibnu Katsir berkata : dalam merangkum perselesihan ulama dalam hal itu, &#8220;Semua pendapat (tentang makna amanah-pen) tidak menafikan yang lainnya, bahkan ia saling menguatkan dan semuanya mengacu kepada taklif (beban) dan patuh kepada perintah dan Iarangan dengan segala konsekuensinya, yaitu sekiranya ia tunaikan akan diberi pahala dan<br />
jika lalai ia dihukum. Lalu diterima oleh manusia dengan segala kelemahan, kebodohan dan kezhaliman kecuali yang diberi taufiq oleh Allah. Kepada-Nyalah minta tolong&#8221;.[Tafsir Ibnu Katsir 6/489]</p>
<p>Muqatil bin Hayyan berkata : &#8220;Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia kumpulkan antara manusia dan jin, langit, bumi dan gunung. Lalu Dia mulai dengan langit, ditawarkan kepadanya amanah yaitu ketaatan, Dia berkata, &#8220;Apakah kalian mau mengemban amanah, akan Kuberi kemuliaan, keutamaan dan surga ?&#8221; Langit berkata, &#8220;Wahai Rabb, kami tidak mampu memikul perkara ini, kami tidak memiliki kekuatan, akan tetapi kami patuh kepadaMu&#8221;.</p>
<p>Lalu amanah tersebut ditawarkan kepada bumi, Dia berkata, &#8220;Apakah engkau akan mengemban amanah dan menerimanya dariKu, akan Aku anugerahkan keutamaan dan kemuliaan?&#8221;</p>
<p>Bumi berkata, &#8220;Kami tidak kuat dan kami tidak mampu, wahai Rabb! Akan tetapi, kami selalu mendengar dan mematuhiMu, kami tidak akan berlaku maksiat pada semua perintahMu&#8221;.</p>
<p>Lalu ditawarkan kepada Adam : lalu Dia berkata, &#8220;Apakah engkau slap mengemban amanah dan mau menjaga dengan sebenarnya?&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">Berkatalah Adam, &#8220;Apa ganjaranku di sisiMu?&#8221;</p>
<p>Allah berkata, &#8220;Wahai Adam, sekiranya engkau berbuat baik, engkau patuh dan engkau jaga amanah itu, maka engkau akan memperoleh kemuliaan, keutamaan dan pahala yang baik di surga. Sebaliknya, sekiranya engkau berlaku maksiat dan tidak menjaganya dengan baik<br />
serta engkau berlaku buruk, maka Aku akan men yiksamu dan Aku masukkan ke dalam nerakaKu &#8220;.</p>
<p>Lalu Adam berkata, &#8220;Aku telah terima&#8221;, maka diembanlah amanat itu olehnya. Lalu Allah berfirman, “Aku telah embankan amanah itu kepadamu&#8221;.[Tafsir ibnu katsir, 6/489-490]</p>
<p>Itulah perjanjian yang Allah ambil kepada manusia, tatkala mereka masih di dalam sulbi Adam, yaitu pengakuan hamba bahwa ia telah ber-ilahkan Allah Yang Esa dan tidak berbuat syirik. Allah berfiman,</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku Ini Rabbmu?&#8221;</p>
<p>Mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi&#8221;. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)&#8221;. [QS. al A'raf: 172]<br />
<strong><br />
Ahsanu Amalan</strong></p>
<p>Al-Quran menyebutkan bahwa penciptaan alam, hidup dan mati untuk menguji manusia mana yang lebih baik amalnya. Itulah yang disebut dengan &#8220;ahsanu `amala&#8221;. Allah berfirman;</p>
<p>&#8220;Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa Iagi Maha Pengampun&#8221;. [QS. al-Mulk: 2]</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya&#8221;. [QS.al-Kahfi: 7]</p>
<p>&#8220;(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya<br />
kepada mereka, dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas&#8221;. [QS. an-Nur:38]</p>
<p>Fudhail bin &#8216; Iyadh , berkata &#8220;Ahsanu amala, adalah amalan yang paling ikhlas dan yang paling benar&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">Jadi, dari semua bentuk penghambaan diri yang paling sempurna adalah penghambaan diri yang berdasarkan ahsanu amala. Ia berdiri dengan 2 syarat, yaitu<br />
1. Hendakiah &#8216;ubudiah kepada Allah disertakan keikhlasan kepadaNya.<br />
2. Hendaklah &#8216;ubudiah tersebut sesuai dengan syariat.</p>
<p>Sekiranya salah satu syarat ini tidak dipenuhi, maka penghambaan diri hanya akuan saja,</p>
<p style="text-align:left;">ikhlas saja kepadaNya tanpa mengikuti syariat, ia tertolak. Sebagaimana sesuai saja tanpa ikhlas, ia juga tertolak. Jadi, ikhlas dan mengikuti syariat adalah dua sayap ibadah. Tidak akan<br />
bisa terbang seseorang dalam penghambaan dirinya kecuali dengan keduanya sekaligus.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:left;">
Bahwa tujuan hidup adalah mencari kebahagiaan dan jalan kebahagiaan adalah dengan menghambakan diri kepada Allah . Penghambaan diri itulah tauhid dan Islam, itulah amanah yang harus dipikul oleh manusia dan itulah peanjian yang telah disepakati.</p>
<p style="text-align:left;">
Tauhid dan Islam tidak akan membuahkan amal shalih kecuali dengan ahsanu &#8216;amala yaitu ikhlas dan mutaba&#8217;ah (sesuai dengan syariat).</p>
<p style="text-align:left;">Dikutip dari buku: untukmu yang berjiwa hanif oleh Al-Ustadz Armen Halim Naro rahimahulloh</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elilmu.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elilmu.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elilmu.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elilmu.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elilmu.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elilmu.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elilmu.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elilmu.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elilmu.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elilmu.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elilmu.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elilmu.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elilmu.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elilmu.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=276&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elilmu.wordpress.com/2010/01/20/hakikat-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11ab2fdcebda9e092a3267fe41cb53d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Seorang Ibu Kepada Anaknya</title>
		<link>http://elilmu.wordpress.com/2010/01/12/surat-seorang-ibu-kepada-anaknya/</link>
		<comments>http://elilmu.wordpress.com/2010/01/12/surat-seorang-ibu-kepada-anaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 04:56:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatunnufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elilmu.wordpress.com/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaikum, Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin. Wahai anakku, Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=272&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu’alaikum,</p>
<p>Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin.</p>
<p>Wahai anakku,</p>
<p>Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka.<br />
<span id="more-272"></span></p>
<p>Wahai anakku!<br />
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.</p>
<p>Wahai anakku..<br />
25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi. Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.</p>
<p>Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku. Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.</p>
<p>Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir. Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air ke kerongkonganku.</p>
<p>Wahai anakku..<br />
Telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu, itulah kebahagiaanku! Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.</p>
<p>Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu. Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.</p>
<p>Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.</p>
<p>Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang. Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.</p>
<p>Anakku..<br />
Ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.</p>
<p>Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!! Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.</p>
<p>Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit. Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu. Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.</p>
<p>Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu. Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!</p>
<p>Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu? Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?</p>
<p>Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantumu. Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!</p>
<p>Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.</p>
<p>Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain. Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi.</p>
<p>Anakku..<br />
Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya. Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya, hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya, hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim? !</p>
<p>Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits: “Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)</p>
<p>Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah. Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Berbakti kepada kedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.</p>
<p>Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?</p>
<p>Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia, wahai Rasulullah?, Rasulullah menjawab, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)</p>
<p>Anakku,<br />
Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada dokter yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku. Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.</p>
<p>Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal, “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam” Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.</p>
<p>Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku, Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.</p>
<p>Wassalam,<br />
Ibumu</p>
<p>.:: Abu Muhammad Armen Halim Jasman ::.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elilmu.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elilmu.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elilmu.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elilmu.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elilmu.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elilmu.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elilmu.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elilmu.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elilmu.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elilmu.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elilmu.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elilmu.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elilmu.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elilmu.wordpress.com/272/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=272&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elilmu.wordpress.com/2010/01/12/surat-seorang-ibu-kepada-anaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11ab2fdcebda9e092a3267fe41cb53d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasihat Ibrahim bin Adham rahimahulloh</title>
		<link>http://elilmu.wordpress.com/2009/12/01/nasihat-ibrahim-bin-adham-rahimahulloh/</link>
		<comments>http://elilmu.wordpress.com/2009/12/01/nasihat-ibrahim-bin-adham-rahimahulloh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 00:29:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatunnufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elilmu.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Ibrahim bin Adham, seorang ulama yang zuhud dan wara&#8217;, ditanya tentang firman Allah Ta&#8217;ala yang artinya, &#8220;Berdoa&#8217;alah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan do&#8217;a kalian.&#8221; (QS. Ghafir: 60). Mereka mengatakan, &#8220;kami telah berdoa kepada-Nya namun belum juga dikabulkan&#8221;. Lalu beliau menjawab, &#8220;Karena hatimu telah mati dengan sebab sepuluh perkara&#8230; 1.Kamu telah mengenal Allah tetapi kamu tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=270&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibrahim bin Adham, seorang ulama yang zuhud dan wara&#8217;, ditanya tentang firman Allah Ta&#8217;ala yang artinya, &#8220;Berdoa&#8217;alah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan do&#8217;a kalian.&#8221; (QS. Ghafir: 60). Mereka mengatakan, &#8220;kami telah berdoa kepada-Nya namun belum juga dikabulkan&#8221;. Lalu beliau menjawab, &#8220;Karena hatimu telah mati dengan sebab sepuluh perkara&#8230;<br />
<span id="more-270"></span><br />
1.Kamu telah mengenal Allah tetapi kamu tidak menunaikan hak-hak-Nya.<br />
2.Kamu telah membaca kitab Allah tetapi kamu tidak mengamalkannya.<br />
3.Kamu mengatakan bermusuhan dengan syaitan, tetapi kenyataannya kamu setia dengannya.<br />
4.Kamu mengaku cinta Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tetapi kamu meninggalkan sunnah-sunnah-Nya.<br />
5.Kamu mengaku cinta surga, namun kamu tidak melakukan amalan-amalan ahli surga.<br />
6.Kamu mengaku takut neraka, tetapi kamu tidak mau meninggalkan perbuatan dosa.<br />
7.Kamu mengatakan bahwa kematian itu adalah benar adanya, tetapi kamu tidak bersiap-siap untuk kematian itu.<br />
8.Kamu sibuk mencari aib orang lain sedang aibmu sendiri tidak kamu perhatikan.<br />
9.Kamu telah makan dari rizki-Nya namun kamu tidak pernah bersyukur kepada-Nya.<br />
10.Kamu sering mengubur orang mati, tetapi kamu tidak pernah mengambil pelajaran darinya.</p>
<p>Ada seorang yang datang kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah lalu berkata kepadanya, &#8220;Wahai Abu Ishak! Sesungguhnya aku telah berbuat zhalim kepada diriku, maka tunjukkanlah kepadaku sesuatu yang dapat menahan dan menyelamatkanku&#8221;.</p>
<p>Lalu Ibrahim berkata, &#8220;Jika Anda menerima lima hal dan mampu untuk melakukannya, maka tidak apa-apa Anda berbuat maksiat.&#8221; Ia berkata,&#8221;Tunjukkanlah, wahai Abu Ishak!&#8221; Beliau menjawab,&#8221;Yang pertama, jika Anda ingin berbuat maksiat kepada Allah, maka jangalah makan (dari) rizki-Nya.&#8221; Ia berkata,&#8221;Darimana aku makan? Sementara semua yang ada di bumi adalah rizki-Nya?.&#8221;</p>
<p>Ibrahim berkata, &#8220;Wahai fulan, pantaskah Anda memakan rizki-Nya sedang Anda berbuat maksiat kepada-Nya?.&#8221; Ia menjawab, &#8220;Tidak (pantas), lalu tunjukkanlah yang kedua.&#8221;</p>
<p>Ibrahim berkata, &#8220;Jika Anda ingin berbuat maksiat kepada-Nya, maka janganlah tinggal di daerah mana saja dari bumi-Nya.&#8221; Ia berkata, &#8220;ini lebih besar lagi, lalu dimana aku akan tinggal?.&#8221; Ibrahim berkata, &#8220;Wahai fulan, pantaskah bagi Anda untuk makan dari rizki-Nya menempati bagian dari bumi-Nya sedang Anda berbuat maksiat kepada-Nya?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Tidak! tunjukkan yang ketiga.&#8221;</p>
<p>Ibrahim berkata, &#8220;Jika Anda ingin berbuat maksiat kepada-Nya, makan dari rizki-Nya, dan bertempat di bumi-Nya, maka carilah sebuah tempat yang tidak dilihat oleh Dia, lalu berbuatlah maksiat disitu.&#8221; Dia menjawab, &#8220;Wahai Ibrahim, bagaimana hal itu terjadi sedang Dia mengetahui segala apa yang tersembunyi dalam hati?.&#8221; Ibrahim berkata, &#8220;Wahai fulan, pantaskah bagi Anda untuk makan dari rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan berbuat maksiat kepada-Nya, sedang Dia melihatmu dan mengetahui kemaksiatan yang kamu tampakkan?.&#8221; Ia menjawab, &#8220;Tidak! lalu tunjukkan yang keempat.&#8221;</p>
<p>Ibrahim berkata, &#8220;Jika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu maka katakanlah kepadanya, &#8216;tundalah dahulu sampai aku bertaubat dengan sebenarnya dan beramal shalih&#8217;.&#8221; Ia menjawab, &#8220;Dia tidak akan mau menerima hal itu dariku.&#8221; Ibrahim berkata, &#8220;Wahai fulan, jika Anda tidak mampu menolak kematian Anda agar dapat bertaubat lebih dulu dan Andapun mengetahui bahwasanya jika kematian itu datang Anda tidak bisa mengundurkannya, lalu bagaimana Anda menginginkan kebebasan?&#8221; Ia berkata, &#8220;Tunjukkan yang kelima.&#8221;</p>
<p>Ibrahim berkata, &#8220;Apabila pada hari kiamat malaikat Zabaniyah datang kepada Anda untuk melemparkan Anda kedalam neraka, janganlah pergi bersamanya.&#8221; Ia menjawab, &#8220;mereka tidak akan meninggalkanku, tidak akan mau menerima permintaanku.&#8221; Ibrahim berkata, &#8220;kalau demikian, bagaimana Anda mengharap selamat?&#8221;. Ia berkata, &#8220;wahai Ibrahim, cukup! cukup! Aku akan beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Dia lalu benar-benar bertaubat kepada Allah dan akhirnya dia beristiqomah dalam beribadah dan menjauhi segala kemaksiatan sampai ia meninggal dunia.</p>
<p>Sumber: 44 Renungan Makna Hidup, Ahmad al Utsman, Pustaka Elba</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elilmu.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elilmu.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elilmu.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elilmu.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elilmu.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elilmu.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elilmu.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elilmu.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elilmu.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elilmu.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elilmu.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elilmu.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elilmu.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elilmu.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=270&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elilmu.wordpress.com/2009/12/01/nasihat-ibrahim-bin-adham-rahimahulloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11ab2fdcebda9e092a3267fe41cb53d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wasiat Imam Hasan Al-Basri Kepada Umar bin Abdul Aziz</title>
		<link>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/29/wasiat-hasan-basri-kepada-umar-bin-abdul-aziz/</link>
		<comments>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/29/wasiat-hasan-basri-kepada-umar-bin-abdul-aziz/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 23:33:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Wasiat &#039;Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatunnufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elilmu.wordpress.com/2009/11/29/wasiat-hasan-basri-kepada-umar-bin-abdul-aziz/</guid>
		<description><![CDATA[Hasan Al-Basri rohimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz rohimahullah , dan dalam suratnya Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur Itu mengajak pelakunya kepada kebaikan dan mengamalkannya . Menyesali kejahatan Itu membuat pelakunya meninggalkannya. Apa yang telah hilang – kendati sangat banyak-tidak bisa dibandingkan dengan apa yang masih ada, kendati mencarinya adalah sesuatu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=267&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hasan Al-Basri rohimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz rohimahullah , dan dalam suratnya Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur Itu mengajak pelakunya kepada kebaikan dan mengamalkannya . Menyesali kejahatan Itu membuat pelakunya meninggalkannya. </p>
<p>Apa yang telah hilang – kendati sangat banyak-tidak bisa dibandingkan dengan apa yang masih ada, kendati mencarinya adalah sesuatu yang mulia. Bersabar terhadap kelelahan sebentar yang menghasilkan istirahat lama itu lebih baik ,daripada penyegeraan istirahat sebentar yang menghasilkan kelelahan abadi.<br />
<span id="more-267"></span><br />
Waspadalah terhadap dunia yang menipu, berikhianat, dan memperdaya. ia berhias dengan tipuannya, berdandan dengan muslihatnya, membunuh manusia dengan mimpi-mimpinya, dan membuat ridu para pelamarnya, hingga Ia menjadi seperti pengantin yang menjadi pusat perhatian. Semua mata melihat kepadanva. semua hati rindu kepadanva. dan semua jiwanva tertarik kepadanya. Ia menjadi pembunuh bagi semua suami-suaminya. Tragisnya orang yang masih hidup tidak mau belajar dari orang yang telah meninggal dunia, generasi terakhir tidak mengambil pelajaran dari generasi pertama, orang bijak tidak mendapatkan manfaat dari banyaknya pengalaman, dan orang yang kenal Allah dan beriman kepada-Nya tidak ingat ketika la diberi penjelasan tentang dunia. </p>
<p>Akibatnya, hati manusia mencintai dunia dan jiwa mereka kikir dengannya.</p>
<p>ini semua tidak lain bentuk kerinduan kita kepada dunia, karena barangsiapa merindukan sesuatu, Ia tidak memikirkan yang lain. Ia mati ketika memburunya atau berhasil mendapatkannya. Kedua orang tersebut adalah perindu dan pemburu dunia. </p>
<p>Perindu dunia telah sukses mendapatkan dunia dan tertipu dengannya. Dengan dunia, Ia lupa akan prinsip dan hari akhirat. Hatinya disibukkan oleh dunia. Hatinya dibuat larut oleh dunia, hingga kakinya tergelincir di dalamnya, dan kematian datang kepadanya dengan sangat cepat daripada sebelumnya. Ketika itu, penyesalanya pun menggelembung, kesedihannya membesar, terkumpul padanya sakaratul maut dan rasa sakitnya dengan sedih kehilangan dunia. </p>
<p>Sedang orang kedua meninggal sebelum berhasil memenuhi kebutuhannya. Ia pergi dari dunia dalam keadaan terpukul hatinya, tidak mendapatkan apa yang dicarinya dan jiwanya tidak bisa istirahat, dari kelelahan. Ia keluar dari dunia  tanpa bekal dan tiba tanpa membawa oleh-oleh. Oleh karena itu, waspadalah secara penuh terhadap dunia, karena dunia itu tak ubahnya seperti ular; kulitnya halus, namun racunnya mematikan. </p>
<p>Berpalinglah dari apa saja di dunia ini yang menarik hatimu, kanena jarang sekali sesuatu yang ada di dunia ini yang menemanimu. Buanglah seluruh ambisi kepada dunia dari dalam hatimu, karena engkau mengetahui dunia itu menyakitkan dan engkau yakin akan berpisah dengannya. Oleh karena itu, waspadalah wahai Amirul Mukminin. Karena sesungguhnya pemilik dunia, setiap kali ia senang kepadanya maka itu berubah menjadi kebencian. </p>
<p>Orang yang gembira di dunia ialah orang yang tertipu, orang yang bermanfaat di dalamnya kelak menjadi orang yang merugi, kemakmuran di dalamnya diberikan bercampur dengan cobaan, dan keabadian di dalamnya berubah menjadi fana. Kebahagiaan di dalamnya bercampur dengan kesedihan, dan akhir kehidupan di dalamnya adalah lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu, lihatlah dunia seperti penglihatan orang zuhud yang hendak meninggalkannya, dan jangan melihat dunia seperti penglihatan perindu yang jatuh cinta. </p>
<p>Ketahuilah, bahwa dunia itu menghilangkan tamu yang telah menetap, dan menyakitkan orang tertipu yang merasa aman. Apa yang telah berlalu dari dunia tidak akan kembali lagi, dan apa yang akan datang tidak bisa diketahui, apa lagi ditunggu.! </p>
<p>Waspadalah terhadap dunia, karena mimpi-mimpinya dusta belaka, khayalan- khaya lannya batil kehidupannya melelahkan, dan kejernihannya adalah keruh. Engkau terancam mendapatkan dua hal di dunia ini; nikmat yang akansirna, dan cobaan yang akan datang, atau musibah yang menyakitkan, dan kematian yang memutus segala-galanya. </p>
<p>Sungguh, dunia itu melelahkan seseorang, jika ia mau berpikir. Ia berada dalam nikmat yang membahayakan, takut terhadap musibah-musibah yang ada di dalamnya, dan meyakini kematian. Seandainya Allah Yang Maha pencipta tidak menyampaikan berita tentang dunia, dan tidak memberi perumpamaan tentang dunia, dan tidak memerintahkan manusia bersikap zuhud di dalamnya, pasti dunia membangunkan orang yang tidur, dan mengingatkan orang yang lupa diri!</p>
<p>Bagaimana tidak, padahal telah datang pelarang dari Allah Azza wa Jalla dan banyak sekali penasihat di dalamnya? Dunia di sisi Allah Azza wa Jalla tidak ada bobot dan nilainya. Berat dunia di sisi Allah Ta’ ala tidak seberat satu kerikil, dan tidak sebesar satu bintang di antara gugusan bintang yang ada. Allah tidak menciptakan makhluk yang Lebih Dia benci dari pada dunia –seperti di sampaikan kepadaku- dan Dia tidak melihat kepada-nya sejak Dia menciptaknnya karena benci kepadanya. </p>
<p>Sungguh dunia dengan kunci-kuncinya dan semua simpanannya yang nilainya di sisi Allah Lebih ringan dari sayap lalat , pernah diperlihatkan kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun beliau menolak menerimanya, karena beliau telah mengetahui bahwa jlka Allah membenci sesuatu, beliau harus membencinya. Jika Allah mengkerdilkan sesuatu, beliau harus mengkerdilkannya. Dan jika Allah merendahkan sesuatu, beliau harus merendahkannya. </p>
<p>Jika beliau menerima dunia tersebut, maka bukti kecintaan beliau kepada dunia tersebut ialah penerimaan beliau terhadap tawaran dalam bentuk dunia tersebut. Namun beliau menolak mencintai sesuatu yang dibenci Allah, dan mengangkat apa yang direndahkan Pemiliknya. </p>
<p>Jika Allah Ta’ala tidak menunjukkan tentang rendahnya nilai dunia kepada beliau, namun Dia memandang rendah dunia tersebut dengan menjadikan kebaikannya sebagai pahala bagi orang-orang yang taat, dan menjadikan hukuman dunia sebagai siksa bagi orang-orang yang bermaksiat. Kemudian Allah mengeluarkan pahala taat dari dunia tersebut, dan mengeluarkan hukuman maksiat daripadanya.</p>
<p>Di antara hal menunjukkan kepada dunia tentang keburukan dunia ini, bahwa Allah Ta’ala menjauhkan dunia dari orang-orang yang shalih dengan suka rela dan membentangkannya kepada musuh-musuh-Nya dengan tujuan menipunya. </p>
<p>Orang yang tertipu dengan dunia dan tergoda dengannya menyangka bahwa ia dimuliakan Allah Ta’ala dengan dunia tersebut. Ia lupa terhadap apa yang diperbuat Allah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam.</p>
<p>Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau mengikatkan batu di perutnya karena saking laparnya. </p>
<p>Adapun Nabi Musa ‘Alaihis Salam, beliau tidak meminta sesuatu kepada Allah Ta‘ala pada saat ia berteduh di bawah pohon, selain makanan yang bisa beliau makan untuk menghilangkan kelaparannya. </p>
<p>Sungguh banyak sekali riwayat-riwayat dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam, bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada beliau , Hai Musa, jika engkau melihat kemiskinan datang kepadamu, katakan, ‘Selamat datang simbol orang-orang shalih.’ Jika engkau melihat kekayaan datang kepadamu, katakan, ‘ini adalah dosa yang hukumannya dipercepat.’ </p>
<p>Jika engkau mau, aku ketengahkan Nabi Isa ‘alaihis salam kepada baginda, karena ia amat menakjubkan. Ia berkata, “Lauk-ku adalah lapar,  Syi’arku ialah takut, Pakaianku ialah wol., Hewan kendaraanku ialah kedua kakiku. Lampuku di malam hari ialah bulan. Bahan bakarku di musim dingin ialah matahari. Buah -buahanku dan penghidupanku ialah apa yang ditumbuhkan bumi untuk binatang buas dan hewan ternak. Aku tidur dalam keadaan tidak memiliki apa-apa dan tidak ada seorang pun yang lebih kaya dariku”.</p>
<p>Jika engkau mau, aku ketengahkan contoh keempat, yaitu Nabi Sulaiman bin Daud Alaihimas Salam, karena ia tidak kalah menakjubkan. Ia makan roti dan gandum, memberi roti coklat kepada keluarganya, dan tepung putih kepada rakyatnya. </p>
<p>Jika malam telah tiba, ia memakai baju dari tenunan kasar, dari tangannya ke lehernya Ia semalaman menangis hingga pagi hari. Ia makan makanan yang kasar, dan mengenakan pakaian kasar. Kendati Itu semua, mereka membenci apa saja yang dibenci Allah Ta’ala, memandang kecil apa yang dipandang kecil oleh Allah Ta’ala, dan bersikap zuhud di dalam hal-hal yang Allah bersikap zuhud di dalamnya. </p>
<p>Kemudian orang-orang shalih meniti jalan mereka, menapaktilasi jalan mereka, mengharuskan dirinya berlelah-lelah, dan memahami lbrah, serta merenung diri. </p>
<p>Mereka bersabar di dunia yang singkat ini dari kenikmatan yang menipu yang berakhir kepada kemusnahan. Mereka melihat kepada akhir dunia, dan tidak melihat kepada permulaannya. Mereka melihat kepada hasil akhir dunia yang pahit, dan tdak melihat rasa manis yang hanya terasa pada awal-awalnya saja.</p>
<p>Mereka mengharuskan dirinya bersabar dan menempatkan diri mereka seperti mayit-mayit yang tidak boleh kenyang di dunia, kecuali pada saat yang dibutuhkan. Mereka makan sebatas untuk menguatkan jiwa, dan ruh. Mereka menempatkan diri mereka seperti bangkai yang telah membusuk, hingga membuat siapa saja yang melewatinya, pasti Ia menutup hidungnya. Mereka tidak meraih dunia hingga sampai tahap merugikannya, dan tidak sampai kenyang yang berbau busuk. </p>
<p>Dunia dijauhkan dari mereka. Itulah kedudukan dunia dalam jiwa mereka. Mereka merasa heran terhadap orang yang memakan dunia hingga kekenyangan, dan bersenang-senang dengannya hingga rakus. Mereka berkata, Tidakkah kalian lihat bahwa mereka tidak takut makan? Tidakkah  mereka mendapatkan bau busuknya? </p>
<p>Saudaraku, demi Allah sesungguhnya bau dunia sekarang atau esok itu lebih busuk daripada bangkai. Hanya saja manusia meminta sabar dengan segera. Akibatnya, mereka tidak bisa mencium bau busuk. Mereka tidak bisa mencium bau bau yang ada di kulit yang membusuk yang mengganggu para pejalan kaki, dan orang-orang yang duduk di dekatnya. </p>
<p>Cukuplah dunia bagi orang yang berakal, bahwa barangsiapa meninggal dunia dengan meninggalkan harta yang banyak, Ia sangat berkeinginan seandainya dulu ia menjadi orang miskin di dunia, atau orang mulia, atau orang buangan, atau orang selamat. Ia lebih senang seandainya di dunia dulu ia menjadi orang yang menderita, atau rakyat biasa. </p>
<p>Jika engkau meninggalkan dunia ini, pasti engkau lebih senang seandainya engkau di dunia ini menjadi orang yang paling rendah kedudukannya, dan  orang yang paling miskin. Bukankah ini cukup dijadikan bukti bahwa dunia itu sangat hina bagi orang yang memikirkannya? </p>
<p>Demi Allah, jika seseorang mengharapkan sesuatu dari dunia ini melainkan ia mendapati dunia tersebut berada di sampingnya tanpa ia kejar dan merasakan kelelahan. Namun jika Ia telah mendapatkan sesuatu dari dunia tensebut, Ia mempunyai hak-hak Allah di dalamnya, dan ia akan ditanya tentang dunia tersebut, serta ia akan dihisab karenanya Jika demikian permasalahannya, maka seyogyanya orang berakal itu tidak mengambil sesuatu dari dunia, kecuali sebesar porsi makanannya dan kebutuhannya, karena khawatir akan ditanya tentang dunia tersebut, dan takut akan dahsyatnya hisab terhadap dirinya. </p>
<p>Sesungguhnya dunia itu jika engkau memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari: hari kemarin yang tidak bisa engkau harapkan lagi, hari yang engkau berada di dalamnya yang harus engkau manfaatkan sebaik mungkin, dan hari esok yang engkau tidak tahu apakah engkau berada di hari tersebut atau tidak? Engkau tidak tahu siapa tahu engkau meninggal dunia esok pagi. </p>
<p>Adapun kemarin, ia ibarat orang bijak yang pandai mendidik. Adapun hari ini, ia ibarat teman yang akan mengucapkan selamat berpisah. Namun, kendati kemarin telah membuatmu sakit, engkau telah menggenggam hikmah. Jika engkau telah menyia-nyiakannya, engkau mendapatkan ganti. Tadinya kemarin tersebut tidak ada pada dirimu, namun sekarang ia cepat pergi darimu. </p>
<p>Adapun esok hari, engkau masih mempunyai secercah harapan. Oleh karena itu, berbuatlah, dan jangan tertipu oleh mimpi-mimpi sebelum ajal tiba. Engkau jangan memasukkan kesedihan esok dan esok lusa ke dalam hari ini, karena hal tersebut hanya akan menambah kesedihanmu dan kelelahanmu, serta engkau kumpulkan pada hari ini sesuatu yang menyempurnakan hari-harimu. Itu hal yang mustahil, karena kesibukan Itu sangat padat, kesedihan Itu semakin bertambah, kelelahan itu semakin besar, dan seseorang membuang amal dengan impian kosong. </p>
<p>Seandainya harapan esok pagi keluar dari hatimu, engkau telah berbuat dengan baik pada hari ini, dan telah mengurangi kesedihanmu pada hari ini. Namun harapanmu terhadap esok pagi itu membuatmu bersikap tidak serius,dan membuatmu menjadi orang yang banyak menuntut. </p>
<p>Jika engkau ingin kata-kata singkat, aku pasti mendiskripsikan untukmu tentang dunia di antara dua jam; satu jam yang telah berlalu, satu jam yang akan datang, dan satu jam yang engkau sedang berada dl dalamnya. </p>
<p>Adapun satu jam yang telah berlalu dan telah lewat. maka engkau tidak mendapatkan kelezatan di istirahat keduanya dan merasakan sakit terhadap musibah keduanya. Sesungguhnya dunia ialah saat yang engkau sedang berada di dalamnya. Satu jam tersebut menipumu dari surga dan menggiringmu ke neraka.</p>
<p>Adapun hari ini -jika engkau memikirkannya- adalah ibarat tamu yang singgah kepadamu dan akan pergi darimu. Jika engkau menjamu dan melayaninya dengan baik, Ia menjadi saksi bagimu, memujimu, dan membenarkanmu di dalamnya. Jika engkau menjamunya dengan buruk, Ia berputar di kedua matamu.</p>
<p>Kedua hari tersebut adalah ibarat dua saudara. Salah seorang daripadanya bertamu kepadamu, kemudian engkau bersikap buruk terhadapnya, dan tidak menjamunya dengan baik. Sesudah orang tersebut pergi darimu, datanglah orang satunya, kemudian berkata kepadamu, Aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku. Jika engkau berbuat baik kepadaku, perbuatan baikmu ini akan menghapus perbuatan burukmu kepada suadaraku sebelum ini dan memaafkan apa yang telah engkau perbuat terhadapnya. Hati-hatilah engkau, jika aku berkunjung kepadamu dan aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku darimu. Sungguh, engkau telah beruntung mendapatkan pengganti jika engkau mau berfikir. Periksalah apa yang telah engkau sia-siakan!. </p>
<p> Jika engkau menyamakan orang kedua seperti orang pertama, maka alangkah pantasnya engkau binasa karena kesaksian dua orang tersebut terhadap dirimu!.</p>
<p>Sesungguhnya sisa umur itu tidak ada nilainya. Seandainya semua dunia dikumpulkan, maka dunia tidak lebih dari satu hari dalam umur seseorang. </p>
<p>Jangan sekali-kali mayat di kuburan itu lebih bisa menghargai sesuatu yang ada di tanganmu daripada engkau sendiri. padahal sesuatu tersebut milikmu. Demi Allah. jika dikatakan kepada mayat di kuburan. ‘Inilah dunia itu dan awal hingga akhir. Engkau memberikannya kepada anak-anakmu kemudian mereka bersenang-senang dengannya sepeninggalmu. Engkau lebih mencintai mereka ataukah lebih mencintai hari di mana engkau dibiarkan beramal untuk dirimu? Pasti ia memilih pilihan kedua.. </p>
<p>Bahkan, seandainya ia disuruh memilih satu jam dengan waktu berjam-jam milik orang lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih memilih waktu satu jam tersebut untuk dirinya.</p>
<p>Bahkan lagi, jika ia disuruh memilih antara satu kata yang mendapatkan pahala dengan hal-hal lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih menyukai satu kata tersebut. </p>
<p>Periksalah dirimu hari ini!  Lihatlah waktu!  Agungkanlah kata!  Hati-hatilah terhadap kerugian ketika Hari Kiamat telah tiba! Semoga Allah menjadikan nasihat ini bermanfaat bagiku dan bagimu. Semoga Allah memberi kita hasil yang baik.</p>
<p>Assalaamu ‘Alaikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh. </p>
<p>Sumber : Buku Wasiat –wasiat Ulama terdahulu , Oleh Syaikh Salim l’ed Al-Hilali hafidzahullah, Penerbit: Dar Ibnu Jauzi. Cet. 2 1112 H/1991 M ,Penerjemah: Fadhli Badri Lc,Pustaka Azzam cet 1. 1420 H/ 1999 M. ( Halaman 36-41)</p>
<p>sumber: http://abufahmiabdullah.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elilmu.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elilmu.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elilmu.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elilmu.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elilmu.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elilmu.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elilmu.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elilmu.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elilmu.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elilmu.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elilmu.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elilmu.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elilmu.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elilmu.wordpress.com/267/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=267&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/29/wasiat-hasan-basri-kepada-umar-bin-abdul-aziz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11ab2fdcebda9e092a3267fe41cb53d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Aku Memilih Manhaj Salaf</title>
		<link>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/17/mengapa-aku-memilih-manhaj-salaf/</link>
		<comments>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/17/mengapa-aku-memilih-manhaj-salaf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 01:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elilmu.wordpress.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Sangat banyak dalil-dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam serta perkataan para sahabat yang menjelaskan akan pujian terhadap orang yang mengikuti jalan As-Salaf dan celaan terhadap orang yang tidak melakukan hal demikian. Dan ini merupakan perkara-perkara yang menguatkan kewajiban mengikuti manhaj Salaf serta menegaskan bahwa dia merupakan jalan keselamatan dan kebahagian hidup. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=264&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sangat  banyak  dalil-dalil  dari  kitabullah  dan  sunnah  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam serta perkataan para sahabat yang menjelaskan akan  pujian  terhadap  orang  yang  mengikuti  jalan  As-Salaf  dan  celaan terhadap  orang  yang  tidak  melakukan  hal  demikian.  Dan  ini  merupakan perkara-perkara yang menguatkan kewajiban mengikuti manhaj Salaf serta menegaskan  bahwa  dia  merupakan  jalan  keselamatan  dan  kebahagian hidup. Di sini kami melemparkan beberapa belas anak panah kepada orang<br />
yang  ragu  lagi  bimbang  untuk membentangkan  jalan  kaum mukminin  dari pohon  keyakinan  sehingga memetik manisnya  iman  dari  atas  pohon  yang subur dan berteduh dibawah kerindangannya dalam buaian dan wanginya.<br />
 <span id="more-264"></span><br />
PERTAMA<br />
Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya : Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar&#8221; [At-Taubah : 100] </p>
<p>Sisi pendalilannya adalah, Rabb sekalian manusia  telah memuji orang yang mengikuti  sebaik-baik manusia maka  jelaslah  bahwa mereka  (Orang-orang  terdahulu  lagi  yang  pertama-tama  (masuk  Islam)  di  antara  orang-orang muhajirin  dan  anshar  )  jika mengatakan  satu  perkataan  lalu  diikuti oleh  orang  yang mengikutinya maka  haruslah  hal  itu merupakan  hal  yang terpuji  dan  berhak  mendapatkan  keridhoan,  dan  seandainya  mengikuti mereka  tidak  memiliki  keistimewaan  dari  selain  mereka  maka  dia  tidak berhak mendapatkan pujian dan keridhoan. </p>
<p>KEDUA<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman.<br />
&#8220;Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah&#8221; [Ali Imran :110] </p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah menetapkan keutamaan atas sekalian umat-umat yang ada dan hal ini menunjukkan keistiqomahan mereka dalam setiap keadaan ; karena mereka tidak menyimpang dari syari&#8217;at yang terang benderang,  sehingga  Allah  Subhanahu  wa  Ta&#8217;ala  mempersaksikan  bahwa  mereka memerintahkan setiap kemakrufan (kebaikan) dan mencegah setiap kemungkaran, hal itu menunjukkan dengan pasti bahwa pemahaman mereka adalah hujjah atas orang yang setelah mereka sampai Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mewarisi bumi dan seisinya. </p>
<p>Jika  ditanya  :  Ini  umum  pada  umat  Islam  seluruhnya  tidak  khusus untuk generasi sahabat saja. </p>
<p>Saya  jawab  :  Bahwa  merekalah  orang  yang  pertama  yang  menjadi obyek  penderita,  dan  tidak  masuk  dalam  konteks  ini  orang-orang  yang mengikuti mereka  dengan  baik  kecuali  dengan  kias  (analogi)  atau  dengan dalil sebagaimana dalil pertama. Dan seandainya konteksnya umum  -inipun benar- maka  para  sahabat  adalah  yang  pertama masuk  dalam  keumuman konteks ayat, karena mereka orang pertama yang menerima dari Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam  tanpa  perantara  (langsung)  sedang  mereka adalah  orang-orang  yang  langsung  berkenaan  dengan  wahyu,  sehingga mereka  lebih  pantas  dimasukkan  dalam  konteks  ayat  daripada  selainnya karena  sifat-sifat  Allah  Subhanahu  wa  Ta&#8217;ala  jadikan  sebagai  sifat mereka tidak memiliki  sifat  -sifat  tersebut  dengan  sempurna  kecuali mereka.  Dan<br />
kesesuaian  sifat  terhadap  kondisi  yang  nyata  merupakan  bukti  bahwa mereka lebih pantas dari selainnya untuk dipuji. Hal itu dijelaskan oleh : </p>
<p>KETIGA<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :<br />
&#8220;Artinya : Sabik-baiknya manusia adalah generasiku [1] kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi, kemudian datang satu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya&#8221; [Mutawatir, sebagaimana telah ditegaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah 1/12 dan Muanawiy dalam Faidhul Qadir 3/478 serta disetujui oleh Al-Kataaniy dalam kitab Nadzmul Mutanatsir hal.127] </p>
<p>Apakah  keutamaan  yang  ditetapkan  kepada  generasi  sahabat  ini  ada pada warna kulit atau bentuk tubuh atau harta mereka &#8230; dst ? </p>
<p>Tidak akan ragu bagi orang berakal yang telah memahami Al-Kitab dan As-Sunnah  bahwa  bukan  itu  semua  yang  dimaksud  ;  karena  tolak  ukur keutamaan  dalam  Islam  adalah  ketakwaan  hati  dan  amal  shalih, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman : &#8220;Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kami di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu&#8221; [Al-Hujuraat : 13] </p>
<p>Dan sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
&#8220;Artinya : Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tidak melihat kepada bentuk kalian dan harta kalian akan tetapi melihat kepada hati-hati kalian dan amalan kalian&#8221; [Hadits Shahih Riwayat Muslim 16/121 -Nawawiy] </p>
<p>Sungguh  Allah  Subhanahu  wa  Ta&#8217;ala  telah  melihat  kepada  hati-hati para  sahabat  Rasulullah  Shallallahu  &#8216;alaihi wa  sallam  dan mendapatkannya sebagai  sebaik-baik  hati  diantara  para  hamba  setelah  hati  Muhammad Shallallahu  &#8216;alaihi wa  sallam  kemudian Allah memberikan  kepahaman  yang tidak  didapatkan oleh orang-orang  yang menyusul mereka, oleh  karena  itu apa yang para sahabat pandang sebagai kebaikan maka dia adalah kebaikan di  sisi Allah Subahanahu wa Ta&#8217;ala dan apa  yang mereka pandang  sebagai kejelekan maka dia adalah kejelekan di sisi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. </p>
<p>Abdullah  bin  Mas&#8217;ud  berkata  :  Sesungguhnya  Allah  Subhanahu  wa Ta&#8217;ala telah melihat kepada hati-hati para hambaNya dan mendapatkan hati Muhammad  Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam  sebaik-baik  hati  para  hamba  lalu memilihnya untuk dirinya dan diutus sebagai pembawa risalahNya, kemudian melihat  kepada  hati-hati  para  hamba  setelah  hati  Muhammad  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan mendapatkan hati-hati para sahabat beliau sebaik-baik para  hamba  lalu  menjadikan  mereka  sebagai  pembantu  NabiNya,  mereka berperang  di  atas  agamaNya,  maka  apa  yang  dipandang  baik  oleh  kaum muslimin  maka  dia  baik  di  sisi  Allah  Subhanahu  wa  Ta&#8217;ala  dan  apa  yang mereka  pandang  kejelekan  maka  dia  adalah  kejelekan  di  sisi  Allah Subahanhu wa Ta&#8217;ala. [2] </p>
<p>Dari Abu Juhaifah, beliau berkata.<br />
&#8220;Artinya : Saya telah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib : &#8216;Apakah kalian memiliki kitab ? Beliau menjawab : &#8216;Tidak kecuali Kitabullah atau pemahaman yang diberikan kepada seorang muslim atau apa yang ada di<br />
lembaran ini[3]. Saya bertanya lagi : Apa yang ada di lembaran tersebut ? Beliau menjawab ; Diyat, pembebasan tawanan dan (pernyataan) bahwa seorang muslim tidak di bunuh dengan sebab orang kafir&#8221; [Hadits Shahih Riwayat Bukhari 1/204 - Al-Fath] </p>
<p>Dengan  demikian maka  pemahaman  para  sahabat  terhadap  Al-Kitab dan As-Sunnah merupakan hujjah atas orang yang setelahnya sampai akhir umat  ini, oleh karena  itu mereka menjadi saksi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dipermukaan bumi ini, hal ini dijelaskan berikut. </p>
<p>KEEMPAT<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman.<br />
&#8220;Artinya : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu&#8221; [Al-Baqarah : 143] </p>
<p>Di  sini  Allah  Subhanahu  wa  Ta&#8217;ala  telah  menjadikan  mereka  umat pilihan dan umat yang adil karena mereka adalah umat yang paling utama dan  paling  adil  dalam  perkataan,  perbuatan  dan  kehendaknya,  sehingga mereka berhak menjadi para saksi atas manusia dan dengan demikian Allah Subhanahu  wa  Ta&#8217;ala  memuji  mereka,  mengangkat  nama  mereka  dan menerima  mereka  dengan  baik.  Dan  saksi  yang  diterima  di  sisi  Allah Subhanahu  wa  Ta&#8217;ala  adalah  yang  bersaksi  dengan  ilmu  dan  kebenaran<br />
sehingga  mengkhabarkan  kebenaran  yang  berdasarkan  ilmunya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. &#8220;Artinya : Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa&#8217;at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)&#8221; [Az-Zukhruf : 86] </p>
<p>Apabila persaksian mereka diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala maka  tidak  diragukan  lagi  bahwa  pemahaman  mereka  dalam  agama  merupakan  hujjah  atas  orang  yang  setelah mereka,  karena  ayat  ini  telah  menjelaskan  penunjukkan  tersebut  secara  mutlak  dan  umat  Islam  tidak memutlakkan sifat adil pada satu generasi kecuali kepada generasi sahabat, karena Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah memberikan sifat adil pada mereka secara mutlak  dan  menyeluruh  sehingga  mereka  mengambil  dari  sahabat  secara<br />
riwayat dan  ilmu seluruhnya  tanpa kecuali. Berbeda dengan selain sahabat, maka  Ahlus  Sunnah  wal  Jama&#8217;ah  tidak  memberikan  sifat  adil  ini  kepada mereka  kecuali  yang  telah diakui  keimanan dan  keadilannya. Kedua hal  ini tidak diberikan kepada seseorang kecuali jika dia berjalan di atas jejak para<br />
sahabat. Maka  jelaslah  dengan  demikian  bahwa  pemahaman  para  sahabat merupakan hujjah atas selainnya dalam pengarahan nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah oleh karena  itu diperintahkan untuk mengikuti  jalan mereka, hal ini dijelaskan dalam. </p>
<p>KELIMA<br />
Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya : Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku&#8221; [Luqman : 15] </p>
<p>Setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memberikan kepada mereka hidayah (petunjuk)  untuk  mendapatkan  perkataan  yang  baik  dan  amalan  shalih dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya : Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira ; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal&#8221; [Az-Zumar : 17-18] </p>
<p>Maka  wajib  mengikuti  jalan  mereka  dalam  memahami  agama  Allah baik Al-Qur&#8217;an ataupun As-Sunnah, oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta&#8217;a mengancam  orang  yang  tidak  mengikuti  jalan  mereka  dengan  neraka jahannam seburuk-buruknya tempat kembali, hal ini dijelaskan. </p>
<p>KEENAM<br />
Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#8217;min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali&#8221; [An-Nisaa : 115] </p>
<p>Sisi  pendalilannya  adalah  bahwa  Allah  Subhanahu  wa  Ta&#8217;ala  telah mengancam  orang  yang  mengikuti  selain  jalan  kaum  mukminin  sehingga menunjukkan  bahwa  mengikuti  jalan  mereka  dalam  memahami  syari&#8217;at adalah wajib dan menyelisihinya adalah kesesatan. </p>
<p>Jadi  dikatakan  :  Ini  adalah  Istidlal  (pendalilan)  dengan  dalil  khithaab dan hal itu bukanlah hujjah, maka kami katakan ; Dia itu dalil, dan dibawah ini akan dijelaskan dalilnya. </p>
<p>[a].  Dari  Ya&#8217;la  bin  Umaiyah  beliau  berkata  :  Saya  telah  bertanya  kepada Umar.<br />
&#8220;Artinya : Maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir&#8221; [An-Nisaa : 101] </p>
<p>Padahal  manusia  telah  aman  ?  Umar  berkata  :  &#8220;Saya  telah  heran seperti  yang  kamu  herankan,  lalu  saya  bertanya  kepada  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang hal tersebut dan beliau menjawab :<br />
&#8220;Artinya : Shadaqah yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berikan kepada kalian maka terimalah shadaqahNya&#8221; [Hadits Riwayat Muslim 5/196 - An-Nawawiy] </p>
<p>Kedua  sahabat  ini  yaitu  Ya&#8217;la  bin  Umaiyah  dan  Umar  bin  Al-Khathab memahami  dari  ayat  ini  bahwa  qashar  shalat  terkait  dengan  syarat  takut, sehingga  jika  manusia  telah  aman  wajib  menyempurnakan  shalat  dan  ia adalah dalil khithaab yang dinamakan juga dengan Mafhum Mukhalafah. </p>
<p>Lalu Umar bertanya kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan beliau  Shallallahu  &#8216;alihi  wa  sallam menyetujui  pemahamannya  akan  tetapi beliau jelaskan kepada Umar bahwa hal itu tidak dipakai disini ; karena Allah Subahanahu  wa  Ta&#8217;ala  telah  bershadaqah  kepada  kalian  maka  terimalah shadaqahnya tersebut. </p>
<p>Seandainya  pemahaman  Umar  tidak  benar  tentunya  Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam  sejak  awal  tidak  mendiamkannya  kemudian mengarahkan  pengarahan  ini  dan  ada  pepatah  yang mengatakan  :  Taujih (pengarahan) bagian dari penerimaan. </p>
<p>[b].  Dari  Jabir  dari  Ummu  Mubasyir  bahwa  dia  telah  mendengar  Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata di hadapan Hafshah. &#8220;Artinya : Tidaklah masuk neraka seorangpun -insya Allah- dari Ashhab<br />
Syajaroh yang berbaiat dibawahnya&#8221;<br />
Dia berkata : benar wahai Rasulullah, lalu beliau menghardiknya lalu berkata Hafshah :<br />
&#8220;Artinya : Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu&#8221; [Maryam : 71] </p>
<p>Maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab : Allah telah berfirman. &#8220;Artinya : Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam naar dalam keadaan berlutut&#8221; [Maryam : 72] </p>
<p>Di  sini  Ummul  Mukminin  Hafshah  memahami  dari  ayat  ini  bahwa semua manusia akan masuk neraka, kemudian Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam meluruskan hal itu dengan lanjutan ayat tersebut yaitu :<br />
&#8220;Artinya : Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa&#8221; [Maryam : 72] </p>
<p>Pada  awalnya  Rasulullah  Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam  mengakui kebenaran  pemahaman  Hafshah,  kemudian  menjelasakan  bahwa  konteks kata  &#8221;  tidak masuknya neraka&#8221;  (dalam hadits  itu) berbeda dengan  konteks kata &#8220;wurud&#8221; (datangnya orang ke neraka yan ada dalam ayat tersebut) dan menjelaskan bahwa yang pertama itu khusus untuk orang-orang shalih yang bertaqwa yakni mereka tidak merasakan adzab neraka dan masuk ke syurga dengan  melewatinya  tanpa  disentuh  sedikitpun  siksaan  dan  adzab,<br />
sedangkan selain mereka tidak demikian. </p>
<p>Maka  jelaslah  Alhmadulillah  bahwa  dalil  khithaab  adalah  hujjah  yang diakui dan dapat disandarkan dalam pemahaman. </p>
<p>Cukuplah bagimu bahwa firman Allah :<br />
&#8220;Artinya : Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#8217;min&#8221; [An-Nisaa : 115] </p>
<p>Bukanlah  dalil  khithab  akan  tetapi  hal  itu  merupakan  argumentasi dengan Taqsiimin Aqliy  (pembagian secara  logika), karena  tidak ada pilihan yang  ketiga  antara  mengikuti  jalan  orang-orang  mukmin  dan  mengikuti selain jalan mereka. Maka  ketika  Allah  Subhanahu  wa  Ta&#8217;ala  melarang  ikut  selain  jalan<br />
mereka maka wajiblah mengikuti jalan mereka, ini sudah sangat jelas sekali. </p>
<p>Jika ada yang membantah : Ada di antara dua pilihan tersebut pilihan yang ketiga yaitu tidak ikut kedua-keduanya. </p>
<p>Maka saya jawab : Ini merupakan pendapat yang sangat lemah sekali ; karena  tidak mengikuti keduanya sama sekali berarti mengikuti  jalan selain mereka (orang-orang mukmin) secara pasti karena firman Allah :<br />
&#8220;Artinya : Maka tidak ada sesudah kabenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)&#8221; [Yunus : 32] </p>
<p>Jelaslah di sini bahwa hanya ada dua pilihan dan tidak ada pilihan yang ketiga.  Jika  dikatakan  :  Kami  tidak  setuju  bahwa  mengikuti  selain  jalan orang-orang  mukmin  berhak  mendapat  ancaman  tersebut  (dalam  ayat) kecuali dibarengi dengan penentangan  terhadap Rasul Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam  sehinnga  hal  itu  tidak menunjukkan  pengharaman mengikuti  selain jalan  kaum  mukminin  secara  mutlak  akan  tetapi  harus  ada  penentangan Rasulnya. </p>
<p>Jawabannya  ;  Telah  diketahui  bahwa menentang  Rasul  diharamkan  secara tersendiri  dan  terpisah  karena  adanya  peringatan  atas  hal  tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. &#8220;Artinya : Dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya&#8221; [Al-Anfaal : 13] </p>
<p>Maka  ayat  ini menunjukkan  ancaman  tersebut  ada  untuk  setiap  dari keduanya  secara  tersendiri dan pensifatan  ini  (mengikuti  selain  jalan kaum mukminin)  termasuk yang mendapat ancaman secara  tersendiri dan hal  itu ditinjau dari hal-hal berikut ; </p>
<p>[a].  Mengikuti  selain  jalan  kaum  mukminin  seandainya  tidak  diharamkan secara  tersendiri  maka  tidak  diharamkan  bersama  penentangan  seperti penyelamat yang lainnya.<br />
[b]. Mengikuti selain jalan kaum mukminin seandainya tidak termasuk dalam ancaman tersebut secara tersendiri maka (pensifatan tersebut) hanyalah sia-sia  dan  tidak  ada  faedahnya  untuk  disebutkan,  maka  jelaslah  bahwa penghubungannya  (dalam  konteks  ayat  tersebut)  adalah  dalil  tersendiri<br />
seperti yang awal. </p>
<p>Jika  ada  yang  mengatakan  :  Kami  tidak  sependapat  jika  ancaman tersebut  berlaku  untuk  semua  orang  yang  mengikuti  selain  jalan  kaum mukminin  secara mutlak  akan  tetapi  hal  itu  berlaku  setelah  jelas  baginya petunjuk,  karena  Allah menyebut  penentangan  Rasul  Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam  dan  mensyaratkan  padanya  kejelasan  petunjuk  kemudian dihubungkan  dengan  mengikuti  selain  jalan  kaum  mukminin,  hal  itu menunnjukkan bahwa kejelasan petunjuk merupakan syarat dalam ancaman terhadap orang yang mengikuti selain jalan kaum mukminin. </p>
<p>Jawabanya Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala<br />
&#8220;Artinya : Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#8217;min&#8221; [An-Nisaa : 115]<br />
Ma&#8217;thuf  (disandarkan/dihubungkan)  dengan  firman  Allah  Subhanahu  wa Ta&#8217;ala :<br />
&#8220;Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya&#8221; [An-Nisaa : 115] </p>
<p>Maka  hal  itu  menunjukkan  bahwa  kait  (syarat)  pada  awal  ayat bukanlah  syarat  bagi  yang  kedua  akan  tetapi  kata  hubung  tersebut  hanya untuk  menunjukkan  kesatuan  dan  kesamaan  dalam  hukum  yaitu  firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya : Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali&#8221; [An-Nisaa : 115] </p>
<p>Hal  ini  menunjukkan  bahwa  setiap  sifat  dari  kedua  sifat  tersebut mendapatkan  ancaman  tersendiri.  Hal  ini  di  bawah  ini  dapat menunjukkannya. </p>
<p>Kejelasan  petunjuk  (kebenaran)  merupakan  syarat  dalam  (hukum) penentangan  Rasul  Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam,  karena  orang  yang  tidak mengetahui  petunjuk  (kebenaran)  Rasulullah  Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam tidak  dikatakan  menentang  sedangkan  mengikuti  jalan  kaum  mukminin<br />
merupakan petunjuk (kebenaran) itu sendiri. </p>
<p>Konteks ayat  ini adalah untuk mengagungkan dan memuliakan  kaum mukminin,  maka  seandainya  mengikuti  jalan  mereka  disyaratkan  dengan datangnya  kejelasan  petunjuk  (kebenaran)  maka  tidaklah  mengikuti  jalan mereka  ini  lantaran  sebagai  jalan mereka  akan  tetapi  karena  telah  datang kejelasan  petunjuk  (kebenaran)  dan  jika  demikian  tidak  ada  faedah mengikuti jalan mereka. </p>
<p>Dengan  demikian  jelaslah  bahwa  mengikuti  jalan  kaum  mukminin merupakan  jalan keselamatan dan pemahaman para  sahabat dalam agama adalah hujjah atas selain mereka, sehingga orang yang menentangnya maka telah menghendaki kesesatan dan berjalan di tempat yang berbahaya, maka cukuplah  Jahanam  (neraka)  sebagai  sejelek-jeleknya  tempat  tinggal  dan kembalinya.  Inilah  kebenaran  maka  berpegang  teguhlah  kepadanya  dan tinggalkanlah jalan-jalan yang menyimpang, dan hal itu juga dijelaskan oleh. </p>
<p>KETUJUH<br />
Firman Allah Subhnahu waa Ta&#8217;ala<br />
&#8220;Artinya: Barangsiapa berpegang teguh kepada Dienullah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus&#8221;.[Ali Imran : 101] </p>
<p>Para sahabat merupakan orang-orang yang berpegang pada tali Allah, karena  Allah  adalah  wali  orang-orang  yang  berpegang  teguh  kepadaNya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya: Dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu,maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong&#8221;.[Al-Hajj :78] </p>
<p>Dan telah diketahui kesempurnaan perlindungan dan pertolongan Allah kepada mereka  yang menunjukan bahwa mereka adalah orang-orang  yang berpegang teguh kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, mereka adalah orang-orang yang memberi petunjuk dengan persaksian Allah dan menyampaikan kebenaran merupakan satu kewajiban menurut syariat, akal dan fitrah, oleh karena  itu  menjadikan  mereka  sebagai  imam-imam  bagi  kaum  mutaqin (orang-orang yang bertaqwa ) karena kesabaran dan keyakinan mereka dan itu dijelaskan oleh: </p>
<p>KEDELAPAN<br />
Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala<br />
&#8220;Artinya : Danjadikanlah kami imam bagi orang yang bertaqwa&#8221;. [Al-Furqan : 74] </p>
<p>Setiap  orang  yang  bertaqwa  akan  diikuti  oleh  mereka  sedangkan ketaqwaan  adalah  wajib  sebagaimana  telah  ditegaskan  oleh  Allah  dalam banyak  ayat  yang  sulit  untuk  memaparkannya  pada  kesempatan  ini, sehingga jelaslah kewajiban mengikuti mereka dan penyimpangan dari jalan meraka merupakan pintu fitnah dan musibah. </p>
<p>KESEMBILAN<br />
Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala<br />
&#8220;Artinya : Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami&#8221;.[As-Sajadah : 24] </p>
<p>Sifat  ini diberikan  untuk para  sahabat Musa dimana Allah Subhanahu Wa  Ta&#8217;ala  mengkhabarkan  Bahwa  Dia  telah  menjadikan  mereka  sebagai imam-imam yang diikuti oleh orang yang setelah mereka dengan kesabaran dan keyakinannya, karena keimaman (kepemimpinan) di dunia dapat dicapai dengan kesabaran dan keyakinan. </p>
<p>Sudah  pasti  para  sahabat  Muhammad  Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam lebih berhak dan pantas mendapat sifat  ini dari para sahabat Musa tersebut karena mereka lebih sempurna keyakinan dan lebih besar kesabarannya dari umat yang lain sehingga mereka lebih pantas memegang jabatan keimamam ini. Hal  ini telah ditetapkan juga oleh persaksian Allah dan pujian Rasulullah terhadap mereka. Kalau begitu mereka adalah orang yang paling pintar dari umat ini sehingga kita diwajibkan untuk merujuk kepada fatwa dan pendapat mereka serta terikat dengan pemahaman mereka terhadap Al-Kitab dan As-<br />
Sunnah secara amalan, akal dan syariat. </p>
<p>KESEPULUH<br />
Dari Abi Musa Al-Asy&#8217;ariy beliau berkata :<br />
&#8220;Artinya : Kami sholat maghrib bersama Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lalu kami berkata : Semalam kita duduk-duduk sampai shalat Isya bersama beliau lalu kami duduk sampai Rasulullah menemui kami dan<br />
berkata ; Kalian masih di sini ? kami menjawab : wahai Rasulullah kami telah shalat bersamamu kemudian kami berkata : kami akan tetap duduk sampai shalat Isya bersamamu, beliau menjawab ; bagus atau benar. Abu Musa berkata : kemudian beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengangkat kepala ke langit dan hal itu sering beliau lakukan lalu bersabda : bintang-bintang adalah penjaga langit, jika hilang bintang-bintang tersebut maka datanglah bencana padanya dan saya adalah penjaga para sahabatku maka jika saya<br />
pergi datang kepada mereka apa yang dijanjikan dan sahabatku adalah penjaga umatku jika telah pergi  sahabatku  datanglah  kepada  umatku  apa yang dijanjikan&#8221; [Hadits Riwayat Muslim 16/82 -An-Nawawiy] </p>
<p>Rasulullah  menjadikan  kedudukan  para  sahabatnya  dibandingkan dengan  generasi  setelah mereka  dari  umat  Islam  sebagaimana  kedudukan beliau  kepada  para  sahabatnya  dan  sebagaimana  kedudukan  bintang terhadap langit. </p>
<p>Jelaslah  Tasybih  Nabawiy  (perumpamaan  Nabi)  ini  menjelaskan kewajiban mengikuti  pemahaman  para  sahabat  dalam  agama  Islam  sama dengan  kewajiban  umat  Islam  kembali  kepada  Nabi  mereka  karena  Nabi adalah  penjelas  Al-Qur&#8217;an  sedangkan  para  sahabatnya  adalah  penyampai dan penjelas beliau bagi umat. Demikianlah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  adalah  seorang  yang  maksum  yang  tidak  berbicara  dengan  hawa nafsu dan beliau hanya mengucapkan petunjuk dan hidayah, sedangkan para  sahabatnya adil yang tidak berkata-kata kecuali dengan kejujuran dan tidak mengamalkan sesuatu kecuali kebenaran. </p>
<p>Dan  demikian  juga  Allah  Subhanahu  wa  Ta&#8217;ala  telah  menjadikan bintang-bintang  sebagai  alat  pelempar  syaitan  ketika  mencuri  khabar sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya : Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaithan yang sangat durhaka, syaithan-syaithan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (diantara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan) ; maka ia dikejar-kejar oleh suluh api yang cemerlang&#8221; [Ash-Shaaffat : 9-10] </p>
<p>Dan firmanNya.<br />
&#8220;Artinya : Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaithan&#8221; [Al-Mulk : 5] </p>
<p>Demikian  juga  para  sahabat  adalah  hiasan  umat  Islam  yang menghancurkan  ta&#8217;wil  orang-orang  bodoh,  ajaran  batil  dan  penyimpangan orang  yang  menyimpang  yang  mengambil  sebagian  Al-Qur&#8217;an  dan<br />
membuang  sebagiannya, mengikuti  hawa  nafsu mereka  lalu  bercerai-berai ke kanan dan ke kiri lalu mereka menjadi berkelompok-kelompok. Demikian juga  bintang-bintang  menjadi  tanda  bagi  penduduk  bumi  agar  mereka gunakan  sebagai  alat  petunjuk  di  kegelapan  darat  dan  laut  sebagaimana<br />
firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya : Dan Dia (ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.&#8221; [An-Nahl : 16] </p>
<p>Dan firmanNya.<br />
&#8220;Artinya : Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut&#8221;  [Al-An'am : 97] </p>
<p>Demikian  juga  para  sahabat, mereka  dicontoh  untuk menyelamatkan diri  dari  kegelapan  syahwat  dan  syubhat, maka  orang  yang  berpaling  dari pemahaman  mereka  berada  dalam  kesesatan  yang  membawanya  kepada kegelapan  yang  sangat  kelam,  seandainya  dia  mengeluarkan  tangannya maka tidak terlihat lagi. </p>
<p>Dengan pemahaman para sahabat, kita membentengi Al-Kitab dan As-Sunnah dari kebid&#8217;ahan syaithan  jin dan manusia yang menginginkan  fitnah dan  ta&#8217;wilnya  untuk  merusak  apa  yang  dimaksud  Allah  dan  RasulNya. Sehingga pemahaman para sahabat merupakan pelindung dari kejelekan dan sebab-sebabnya.  Seandainya  pemahaman  mereka  bukan  hujjah  tentunya pemahaman  orang  setelah mereka menjadi  penjaga  dan pelindung mereka dan ini mustahil. </p>
<p>Kesebelas<br />
Hadits-hadits  yang  menjelaskan  kewajiban  untuk  mencintai  para  sahabat dan mencela orang yang membenci mereka -dan merupakan kesempurnaan dalam  mencintai  mereka  adalah  dengan  mencontoh  jejak  langkah  dan berjalan  di  atas  petunjuk mereka  dalam memahami  kitabullah  dan  sunnah Rasulullah- sangat banyak. Diantara hadits &#8211; hadits  tersebut   adalah  sabda  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
&#8220;Artinya : Janganlah mencela sahabatku karena seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung uhud tidak akan menyamai satu mud atau setengah mudnya shadaqah mereka&#8221; [4] </p>
<p>Keutamaan  ini  bukan  saja  dari  sisi  mereka  telah  melihat, berdampingan  dan  bersahabat  dengan  beliau  Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam akan  tetapi hal  itu  karena  ittiba&#8217; dan pengamalan mereka  terhadap  sunnah beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang demikian besar.  </p>
<p>Pantaslah  jika  pemahaman  mereka  dijadikan  jalan  petunjuk  dan pendapat-pendapat  mereka  dijadikan  kiblat  tempat  seorang  muslim menghadapkan wajahnya dan  tidak berpaling kepada selainnya. Dan hal  itu<br />
jelas  -jika  dilihat-  sebab  turunnya  hadits  ini  dimana  orang  yang  dilarang tersebut  adalah  Khalid  bin  Al-Walid  dan  beliau  seorang  sahabat,  maka apabila satu mud sebagian sahabat atau setengahnya lebih baik di sisi Allah dari  emas  sebesar  gunung  uhud  lantaran  keutamaan  dan  terdahulunya mereka  dalam  Islam,  maka  tidak  diragukan  lagi  adanya  perbedaan  yang besar antara sahabat dengan orang yang setelah mereka. Kalau keadaannya seperti  ini bagaimana mungkin pemahaman orang yang memiliki akal yang cemerlang  dalam  agama  Allah  ini  tidak  menjadi  jalan  petunjuk  yang membawa kepada jalan yang lebih lurus ? </p>
<p>KEDUABELAS<br />
Diantaranya hadits Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. &#8220;Artinya : Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin dan gigitlah dengan gigi gerahammu&#8221; [Telah lewat Takhrijnya] </p>
<p>Hadits  ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan umatnya  ketika  terjadi perselisihan untuk berpegang  teguh kepada  sunnahnya  dengan paham para  sahabatnya  sebagaimana  telah  lalu penjelasannya. </p>
<p>Diantara  faedah berharga dari hadits  ini, Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam setelah menyebut sunnahnya dan sunnah para Khulafaur Rasyidin berkata :<br />
Dalam rangka untuk menunjukkan bahwa sunnah beliau dan sunnah para Khalifah Rasyidin adalah satu manhaj dan hal itu hanya terjadi dengan pemahaman yang shahih dan jelas yaitu berpegang teguh kepada sunnah beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan pemahaman para sahabatnya. </p>
<p>KETIGABELAS<br />
Hadits  Rasulullah  Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam  dalam  mensifatkan manhaj  Firqatun  Najiyah  (golongan  yang  selamat)  dan  Ath-Thaifah  Al-Manshurah (kelompok yang dimenangkan) :<br />
&#8220;Artinya : Apa yang aku ada atasnya sekarang dan para sahabatku&#8221; [Telah lalu Takhrijnya] </p>
<p>Ada  yang  mengatakan  :  Tidak  diragukan  lagi  bahwa  pemahaman Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa  sallam dan para  sahabatnya  setelah beliau adalah manhaj  yang  tidak  ada  kebatilannya  akan  tetapi  apa  dalilnya  kalau manhaj  salafi  adalah  pemahaman  Rasul  Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam  dan para sahabatnya ? </p>
<p>Jawabanya : awaban atas pertanyaan ini ada dari dua sisi : Sesungguhnya pemahaman-pemahaman yang disebutkan  tadi adanya setelah  zaman  Nabi  dan  kekhilafahan  Rasyidah  dan  tentunya  tidaklah<br />
dinisbatkan yang  terdahulu kepada yang setelahnya akan  tetapi sebaliknya, sehingga  jelaslah  kelompok  yang  tidak  berjalan  dan mengikuti  jalan-jalan kesesatan adalah kelompok yang berada pada asalnya. </p>
<p>Kami  tidak  menemukan  pada  kelompok-kelompok  sempalan  umat Islam  yang  sesuai  dengan  para  sahabat  kecuali Ahlul Sunnah wal  Jama&#8217;ah dari kalangan pengikut As-Salaf Ash-Shalih Ahlul Hadits. </p>
<p>Adapun  Mu&#8217;tazilah  bagaimana  bisa  sesuai  dengan  para  sahabat sedangkan  tokoh-tokoh  besar  mereka  mencela  tokoh  besar  sahabat  dan merendahkan  keadilan  mereka  serta  menuduh  mereka  sesat  seperti  Al-Washil bin Atho&#8217; yang menyatakan : Seandainya Ali, Tholhah dan Az-Zubair  bersaksi maka saya  tidak menghukum karena persaksian mereka.[Lihat Al-Farqu Bainal Firaq hal.119-120] </p>
<p>Adapun Khawarij telah keluar dari agama dan menyempal dari jama&#8217;ah kaum muslimin  karena  diantara  pokok-pokok  dasar  ajaran mereka  adalah mengkafirkan  Ali  dan  anaknya,  Ibnul  Abbas,  Utsman, Thalhah,  Aisyah  dan Mu&#8217;awiyah  dan  tidaklah  berada  diatas  sifat-sifat  para  sahabat  orang  yang melecehkan dan mengkafirkan mereka. </p>
<p>Adapun  Shufiyah,  mereka  meremehkan  warisan  para  Nabi  dan merendahkan  para  penyampai  Al-Kitab  dan  As-Sunnah  serta  mensifatkan mereka  sebagai  para mayit. Seorang  tokoh  besar mereka  berkata  : Kalian mengambil  ilmu  kalian,  dari mayit  sedangkan  kami  mengambil  ilmu  kami dari  yang  maha  hidup  yang  tidak  mati  (Allah)  langsung.  Oleh  karena  itu mereka  mengatakan  -dengan  mulut-mulut  mereka  untuk  menolak  sanad hadits- : Telah mengkhabarkan kepada saya hati saya dari Rabb. </p>
<p>Adapun  Syi&#8217;ah,  mereka  telah  meyakini  bahwa  para  sahabat  telah murtad setelah kematian Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kecuali beberapa orang  saja,  lihatlah  Al-Kisyiy  -salah  seorang  imam mereka- meriwayatkan satu riwayat dalam kitab Rijalnya hal. 12,13 dari Abu Ja&#8217;far, bahwa dia telah menyatakan : Semua orang murtad setelah kematian Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam  kecuali  tiga,  saya  berkata  :  Siapakah  ketiga  orang  tersebut  ?<br />
Beliau  jawab  : Al-Miqdaad bin Al-Aswaad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al-Farisiy. </p>
<p>Dan meriwayatkan  dalam  hal.13  dari  Abu  Ja&#8217;far,  dia  berkata  :  Kaum Muhajirin dan Anshor telah keluar (dari agama) kecuali tiga. [Lihat Al-Kaafiy karya Al-Kulaniy, hal.115] </p>
<p>Lihat  juga Khumaini  -tokoh  besar mereka  di  zaman  ini- mencela  dan melaknat Abu Bakar dan Umar dalam kitabnya Kasyful Asroor hal, 131, dia menyatakan  : Sesungguhnya  syaikhani  (Abu Bakar  dan Umar)  &#8230;  dan  dari sini  kita  dapati  diri  kita  terpaksa menyampaikan  bukti-bukti  penyimpangan<br />
mereka  berdua  yang  sangat  jelas  terhadap  Al-Qur&#8217;an  dalam  rangka membuktikan bahwa kedua telah menyelisihinya. </p>
<p>Dan  berkata  lagi  hal  137  :  &#8230;  dan  Nabi  menutup  matanya  (wafat) sedangkan  kedua  telinga  beliau  ada  ucapan-ucapan  Ibnul  Khaththab  yang tegak  diatas  kedustaan  dan  bersumber  dari  amalan  kekufuran,  kezindikan dan penyelisihan terhadap ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur&#8217;an yang mulia.<br />
Adapun  Murji&#8217;ah,  mereka  berkeyakinan  bahwa  iman  orang-orang  munafiq yang  berada  dalam  kenifakan  sama  seperti  imannya  Assabiqunal  Awalun (orang-orang  pertama  yang  masuk  Islam)  dari  kalangan  Muhajirin  dan Anshar. </p>
<p>Bagaimana  mereka  semua  ini  bersesuaian  dengan  para  sahabat sedangkan mereka :<br />
Mengkafirkan orang-orang pilihan dari kalangan mereka Tidak menerima sedikitpun yang mereka riwayatkan dari Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam aqidah dan hukum syari&#8217;at. Mengikuti peradaban Rumawi dan filsafat Yunani </p>
<p>Kesimpulannya<br />
Kelompok-kelompok  ini semua  ingin menolak para saksi kita  terhadap Al-Kitab  dan  As-Sunnah  dan  mencela  mereka  sedangkan  mereka  lebih pantas dicela dan mereka ini adalah kaum zindiq. </p>
<p>Dengan demikian  jelaslah bahwa pemahaman salaf adalah manhaj Al-Firqatun Najiyah dan Ath-Thaifah Al-Manshurah dalam konsep pemahaman, penerimaan dan Istidlal (pengambilan hukum). </p>
<p>Sedangkan orang-orang yang mencontoh para  sahabat adalah orang-orang  yang  beramal  dengan  riwayat-riwayat  (hadits)  yang  shahih  dan otentik dalah hukum syariat, dengan jalan dan pemahaman sahabat, dan ini merupakan  jalan  hidupnya  Ahlul  Hadits,  bukan  jalannya  ahlul  bid&#8217;ah  dan hawa.  Sehingga  benar  dan  kuatlah  apa  yang  telah  kami  paparkan  ketika kami  jelaskan  wujud  keberhasilan  mereka  dalam  berhukum  kepada Rasulullah  Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam  dengan  keberhasilan  orang  yang mengambil  sunnah  Shallallahu  &#8216;alaihi  wa  sallam  dan  sunnahnya  para Khulafaur Rasyidin setelah beliau. </p>
<p>Wallahu A’lam Bishshowab </p>
<p>[Disalin  dari  Kitab  Limadza  Ikhtartu  Al-Manhaj  As-Salafy,  edisi  Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi] </p>
<p>Sumber: www.Abualbinjy.wordpress.com<br />
__________<br />
Foote Note.<br />
[1].  Tertulis  dalam  banyak  buku  hadits  ini  degan  lafadz  :  &#8220;Sebaik-baiknya generasi&#8221;. Saya mengatakan bahwa  lafadz-lafadz  ini  lemah dan yang benar apa yang telah saya tulis ini.<br />
[2]. Dikeluarkan oleh Ahmad I/379, Ath-Thoyalisiiy dalam musnadnya hal.23 dan  Al-Khotib  Al-Baghdadiy  dalam  Al-faqih  wal  Mutafaqqih  I/166  secara mauquf  dengan  sanad  yang  hasan.  Kata-kata  terakhir  dari  atsar  ini  telah masyhur  sebagai  hadits  marfu&#8217;  dan  itu  tidak  benar  sebagaimana  telah<br />
dijelaskan  para  imam  dan  itu  hanyalah  dari  perkataan  Ibnu  Mas&#8217;ud, sebagaimana telah saya jelaskan dalam kitab Al-Bid&#8217;ah wa Atsaruha fil Umat, hal.21-22 silahkan dilihat.<br />
[3]. Ini adalah nash yang cukup tegas dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib menghancurkan  kebatilan  syiah  rafidhah  yang  menisbatkan  diri  mereka kepada keluarga Nabi (ahlil bait) secara dzolim dan menipu ketika mengaku-ngaku  bahwa  ahlil  bait  memiliki  kitab  yang  berukuran  tiga  lipat  dari  Al-Qur&#8217;an yang berada di  tangan kita yang mereka namakan Mushaf Fatimah. Lihat Bughyatul Murtaab karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal.321-322<br />
[4]. Hadits Riwayat Al-Bukhariy 7/21  &#8211; Al-Fath  dan Muslim 16/92-93  &#8211; An-Nawawiy  dari  hadits  Abi  Said  Al-Khudriy.  Dan  disebutkan  dalam  Shahih Muslim (16/92 &#8211; An-Nawawiy) dari hadits Abi Hurairah dan ini satu kesalahan sebagaimana  telah dijelaskan oleh Al-Hafidz Al-Baihaaqiy dalam Al-Madkhol Ila Sunnah  hal. 113 dan  Ibnu Hajar dalam  Fathul Bariy 7/135, untuk  lebih jelasnya  lihat  kitab  :  Juz  Muhammad  bin  Ashim  An-Syuyukhihi  yang  saya tahqiq (13) </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elilmu.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elilmu.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elilmu.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elilmu.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elilmu.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elilmu.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elilmu.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elilmu.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elilmu.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elilmu.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elilmu.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elilmu.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elilmu.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elilmu.wordpress.com/264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=264&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/17/mengapa-aku-memilih-manhaj-salaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11ab2fdcebda9e092a3267fe41cb53d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seorang Mukmin Tidak Pernah Stress</title>
		<link>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/15/seorang-mukmin-tidak-pernah-stress/</link>
		<comments>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/15/seorang-mukmin-tidak-pernah-stress/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 02:01:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elilmu.wordpress.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. Allah Berfirman: &#8220;(artinya) Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan&#8221; [QS. al-Anbiya':35]. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: &#8220;(Makna [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=262&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. Allah Berfirman:</p>
<p>&#8220;(artinya) Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan&#8221; [QS. al-Anbiya':35].</p>
<p>Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: &#8220;(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa&#8221; [Tafsir Ibnu Katsir: 5/342- Cet. Darut Thayyibah] .<br />
<span id="more-262"></span><br />
 Kebahagiaan hidup adalah dengan bertakwa kepada Allah</p>
<p>Allah dengan ilmu-Nya yang maha tinggi dan hikmah-Nya yang maha sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat. Allah berfirman:</p>
<p>“(artinya) Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu&#8221; [QS. al-Anfaal: 24).</p>
<p>Inilah yang ditegaskan oleh Allah dalam banyak ayat al-Qur'an, di antaranya firman-Nya:</p>
<p>“(artinya) Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan ” [QS. An-Nahl:97].</p>
<p>&#8220;Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)&#8221; [QS. Huud:3].</p>
<p>Sikap seorang mukmin dalam menghadapi masalah</p>
<p>Dikarenakan seorang mukmin dengan ketakwaannya kepada Allah, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, maka masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan karena keimanannya yang kuat kepada Allah sehingga membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allah berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Dan dengan keyakinannya ini Allah akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya</p>
<p>“(artinya) Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu&#8221; [QS at-Taghaabun:11].</p>
<p>Imam Ibnu Katsir berkata: &#8220;Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya&#8221; [Tafsir Ibnu Katsir: 8/137].</p>
<p>Inilah sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Meskipun Allah dengan hikmah-Nya yang maha sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allah dalam mengahadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang mukmin.</p>
<p>Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim berkata: &#8220;Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut. Adapun orang-orang kafir, maka mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan). Sungguh Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:</p>
<p>“(artinya) Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan&#8221; [QS. an-Nisaa':104].</p>
<p>Maka orang-orang mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah&#8221; [Ighaatsatul Lahfan hal. 421-422].</p>
<p>Hikmah cobaan</p>
<p>Disamping sebab-sebab yang kami sebutkan di atas, ada faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam meringankan semua kesusahan yang dialami seorang mukmin dalam kehidupan di dunia, yaitu dengan dia merenungkan dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allah jadikan dalam setiap ketentuan yang diberlakukan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Karena dengan merenungkan hikmah-hikmah tersebut dengan seksama, seorang mukmin akan mengetahui dengan yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah justru untuk kebaikan bagi dirinya, dalam rangka menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allah.</p>
<p>Semua ini disamping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allah dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya. Dan dengan sikap ini Allah akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allah akan memeperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi (artinya):</p>
<p>أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِـيْ</p>
<p>&#8220;Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku&#8221; [Shahih Bukhari: 7066, Shahih Muslim: 2675].</p>
<p>Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah [Faidhul Qadiir: 2/312 dan Tuhfatul Ahwadzi: 7/53].</p>
<p>Di antara hikmah-hikmah yang agung tersebut adalah:</p>
<p>1- Allah menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya, yang kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allah, maka musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut akan meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Inilah makna sabda Rasulullah (yang artinya):</p>
<p>&#8220;Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan adalah para Nabi kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka, (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemah) agamanya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tsb berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)&#8221; [Silsilah al-Hadits as-Shahihah: 143].</p>
<p>2- Allah menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang . Inilah makna sabda Rasulullah (yang artinya):</p>
<p>&#8220;Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya&#8221; [Shahih Muslim: 2999].</p>
<p>3- Allah  menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allah sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Dan inilah keistimewaan surga yang menjadikannya sangat jauh berbeda dengan keadaan dunia, karena Allah menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hamba tersebut hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti. Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah:</p>
<p>كُنْ فِيْ الدُّنْيـَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ</p>
<p>&#8220;Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan&#8221;  [Shahih Bukhari: 6053].</p>
<p>Penutup</p>
<p>Sebagai penutup, kami bawakan penuturan Ibnul Qayyim perihal gurunya, Ibnu Taimiyyah, dalam menjalani kesusahan hidup.</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata: &#8220;Dan Allah yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau (Ibnu Taimiyyah). Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi bersamaan dengan itu semua (aku mendapati) beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Dan kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat), maka dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang&#8221; [al-Waabilush Shayyib hal. 67, cet. Darul Kitaabil 'Arabi].</p>
<p>sumber: www.Alhujjah.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elilmu.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elilmu.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elilmu.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elilmu.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elilmu.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elilmu.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elilmu.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elilmu.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elilmu.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elilmu.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elilmu.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elilmu.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elilmu.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elilmu.wordpress.com/262/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=262&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/15/seorang-mukmin-tidak-pernah-stress/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11ab2fdcebda9e092a3267fe41cb53d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Soal-Jawab masalah Gambar, Foto, dan Vidio</title>
		<link>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/12/soal-jawab-masalah-gambar-foto-dan-vidio/</link>
		<comments>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/12/soal-jawab-masalah-gambar-foto-dan-vidio/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 03:10:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[al-Masa&#039;il]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elilmu.wordpress.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[HUKUM MENGGANTUNGAN GAMBAR MAKHLUK HIDUP Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah Soal: Apakah hukumnya mengantungkan gambar makhluk hidup di atas dinding? Jawab: Menggantungkan gambar-gambar makhluk hidup di atas dinding, apalagi yang besar ukurannya adalah haram. Walaupun hanya terlihat badan dan kepala saja karena disana ada unsur pengagungan. Pokok dari kesyirikan adalah sikap ghuluw (=berlebihan) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=260&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>HUKUM MENGGANTUNGAN GAMBAR MAKHLUK HIDUP</p>
<p>Oleh:</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah</p>
<p>Soal: Apakah hukumnya mengantungkan gambar makhluk hidup di atas dinding?</p>
<p>Jawab: Menggantungkan gambar-gambar makhluk hidup di atas dinding, apalagi yang besar ukurannya adalah haram. Walaupun hanya terlihat badan dan kepala saja karena disana ada unsur pengagungan. Pokok dari kesyirikan adalah sikap ghuluw (=berlebihan) sebagaimana terdapat dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu, beliau berkata tentang berhala-berhala, mereka adalah nama-nama orang sholih. Mereka menggambar bentuknya untuk mengingatkan ibadah kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang cukup panjang sehingga mereka menyembahnya (HR. Bukhori no. 4920).<br />
<span id="more-260"></span><br />
Majmu Fatawa Arkanil Islam, soal no. 86.</p>
<p>FATWA-FATWA ULAMA AHLUS SUNNAH</p>
<p>TENTANG HUKUM VIDEO DAN GAMBAR</p>
<p>Oleh: Al-Akh Ayub Abu Ayub, Yaman</p>
<p>1. Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah ditanya:</p>
<p>Apa hukum pengajaran cara memandikan dan mengkafani (jenazah) melalui media video?</p>
<p>Beliau menjawab:<br />
Pengajaran adalah dengan cara selain video, dikarenakan terdapat pada hadits-hadits shohih yang banyak tentang larangan menggambar (makhluk yang bernyawa) dan laknat terhadap orang-orang yang menggambar. (Asilah Al Jamiah Al Khairiyah di Syaqra) (*1)</p>
<p>2. Dan beliau ditanya:<br />
Apakah perangkat televisi termasuk dalam bentuk menggambar? Ataukah yang haram hanya berupa hal-hal yang terpampang berupa program-program yang jelek?</p>
<p>Beliau menjawab:<br />
Semua bentuk menggambar adalah haram (Al Ibraz liaqwal Al Ulama fii Hukm At Tilfaz) (*2)</p>
<p>3. Asy Syaikh Al Albany berkata:<br />
Mereka yang membolehkan menggambar gambar potret, membatasi hanya kepada cara menggambar yang dulu maruf di zaman ketika hal itu dilarang. Mereka tidak mengolongkan pada hukum menggambar, terhadap cara yang baru ini, berupa gambar potret, dalam keadaan proses tersebut dinamakan menggambar secara bahasa, syari, akibat dan bahayanya. Seperti halnya yang demikian akan jelas dengan memperhatikan akibat dari pembedaan yang tersebut di atas. Aku pernah berkata kepada salah satu dari mereka, beberapa tahun lalu, kalau demikian itu, berarti Mengharuskan kalian untuk membolehkan patung-patung yang tidak dipahat, hanya dengan menekan tombol listrik yang bersambung dengan alat khusus, terproduksilah puluhan patung dalam waktu beberapa detik sajaApa yang kalian katakan pada hal yang demikian ini? Maka diapun bungkam! (Adabu Az Zifaf) (*3)</p>
<p>4. Beberapa fatwa dari Al Lajnah Ad Daimah:<br />
Pertanyaan: Apakah fotografi masuk dalam hukum menggambar dengan tangan atau tidak?</p>
<p>Jawaban: Perkataan yang shohih yang ditunjukkan oleh dalil-dalil syari, dan merupakan perkataan jumhur ulama adalah bahwasanya dalil-dalil pengharaman menggambar makhluk-makhluk yang bernyawa mencakup fotografi dan gambar tangan, 3 dimensi atau 2 dimensi karena keumuman dalil-dalil.</p>
<p>Pertanyaan: Terdapat bentuk baru dalam menggambar yaitu apa yang kami saksikan di televisi dan video dan selainnya berupa fita film, dimana gambar seseorang seperti yang mereka katakan, nyata. Dan gambar bisa tersimpan padanya, dalam waktu yang lama. Apa hukum jenis yang seperti ini termasuk hukum menggambar?</p>
<p>Jawaban: Hukum menggambar mencakup apa yang engkau sebutkan tersebut (5807)</p>
<p>Pertanyaan: Apakah menggambar dengan menggunakan kamera video hukumnya termasuk dalam hukum gambar fotografi?</p>
<p>Jawaban: Ya, Hukum menggambar dengan video adalah hukum menggambar dengan fotografi, yaitu terlarang dan haram karena keumuman dalil-dalil. (16259) (*4)</p>
<p>5. Asy Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya:</p>
<p>Apa hukum penggunaan media pengajaran berupa video dan film dan yang selainnya, dalam pengajaran ilmu syari seperti tafsir dan fiqh dan yang selainnya?</p>
<p>Beliau menjawab: Pendapatku, yang demikian tersebut TIDAK BOLEH, karena yang demikian tersebut mesti disertai dengan mengambil gambar, dan menggambar (makhluk yang bernyawa) hukumnya haram dan tidak terdapat di situ hal-hal darurat yang menuntut demikian.(Al Muntaqo 513) (*5)</p>
<p>6. Asy Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata:</p>
<p>Termasuk kemungkaran yang besar adalah seorang penceramah berdiri di sebuah masjid menyampaikah ceramahnya dan kamera menghadap kepadanyadan siaran langsung termasuk dalam pengharaman, dan yang demikian termasuk gambar. Dan manusia menyebut yang demikian (yaitu siaran langsung) adalah gambar! Maka hal tersebut adalah haram. (Hukmu At Tashwir Dzawatil Arwah 70-71) (*6)</p>
<p>Fatwa-Fatwa Al Lajnah Ad Daimah</p>
<p>1. Pertanyaan: Jika seandainya saya merantau ke luar negeri dan saya ingin mengirim gambarku kepada keluargaku dan teman-temanku, khususnya kepada istriku, apakah yang demikian ini boleh bagi seseorang, ataukah tidak? (*7)</p>
<p>Jawaban: Hadits-hadits yang shohih dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menunjukkan terhadap pengharaman gambar makhluk yang bernyawa dari kalangan bani Adam dan yang selainnya. Maka tidak boleh engkau mengambil gambar dirimu dan engkau kirim gambarmu tersebut kepada keluargamu begitu juga kepada istrimu. Wa billahi at taufiq wa shallallahu alaa nabiyina muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.</p>
<p>Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta<br />
Ketua:<br />
<strong>Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz</strong><br />
Anggota:<br />
Abdurrozaq Afifi<br />
Abdullah bin Gudhyan<br />
Abdullah bin Quud</p>
<p>2. Pertanyaan: Apakah memotret dengan kamera haram atau tidak apa-apa bagi pelakunya? (*8)</p>
<p>Jawaban: Iya. Menggambar makhluk yang bernyawa dengan kamera dan selainnya haram dan wajib bagi pelakunya untuk bertaubat kepada Allah Taala dan memohon ampun kepadaNya dan menyesal atas apa yang terjadi dan tidak mengulanginya kembali. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.<br />
Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta<br />
Ketua:<br />
<strong>Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz</strong><br />
Anggota:<br />
Abdurrozaq Afifi<br />
Abdullah bin Gudhyan<br />
Abdullah bin Quud</p>
<p>3. Pertanyaan: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke dalam sebuah rumah yang di dalamnya terdapat gambar atau patung atau anjing. Apakah termasuk di dalamnya gambar-gambar yang berada di dalam buku-buku dan perlu diketahui bahwa di sampulnya tidak terdapat gambar? (*9)</p>
<p>Jawaban: Masuk di dalam keumuman hadits walaupun gambar tidak berada di sampul. Dan tidak termasuk di dalam keumuman hadits kalau gambar kepala dihilangkan atau dihapus. Wa shallallahu alaa nabiyina muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.</p>
<p>Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta<br />
Ketua:<br />
<strong>Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz</strong><br />
Anggota:<br />
Abdurrozaq Afifi<br />
Abdullah bin Gudhyan</p>
<p>4. Pertanyaan: Apa hukum mengambil gambar dengan kamera sebagai foto keluarga dan yang semisalnya sebagai kenang-kenangan atau hiburan saja dan bukan untuk yang lain? (*10)</p>
<p>Jawaban: Menggambar makhluk hidup haram bahkan termasuk dari dosa-dosa besar. Sama saja apakah pelaku menjadikannya sebagai pekerjaan atau tidak. Dan sama saja apakah gambar berupa ukiran atau lukisan dengan tangan dan yang semisalnya, atau sebaliknya dengan kamera dan yang semisalnya dari alat-alat ataukah berupa pahatan batu atau semisalnyadan seterusnya. Dan sama saja apakah untuk sebagai kenang-kenangan atau yang selainnya. Dikarenakan hadits-hadits yang datang pada yang demikian. Dan hadits-hadits tersebut umum untuk segala macam proses menggambar dan gambar makhluk hidup. Tidak dikecualikan darinya kecuali yang disebabkan darurat.<br />
Wa billahi at taufiq wa shallallahu alaa nabiyina muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.</p>
<p>Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta<br />
Ketua:<br />
<strong>Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz</strong><br />
Anggota:<br />
Abdurrozaq Afifi<br />
Abdullah bin Gudhyan<br />
Abdullah bin Quud</p>
<p>Ket :</p>
<p>(1) Tashwir Al Masyaikh bil fiidiyu laa yajuuz (5)<br />
(2) Ibid (5) catatan kaki<br />
(3) Ibid (7)<br />
(4) Ibid(7)<br />
(5) Ibid(5)<br />
(6) Ibid(4)<br />
(7) Fatawa Al Lajnah (1/457-458)<br />
(8) Ibid (1/461)<br />
(9) Ibid (1/477)<br />
(10) Ibid (1/480)</p>
<p>Sumber: http://darussalaf.or.id/index.php?name=News&amp;file=article &amp;sid=515</p>
<p>sumber: http://abusulaiman4b.wordpress.com/2008/01/08/hukum-foto-untuk-fs/</p>
<p>———————————————————— —-</p>
<p>jadi ketika tidak adanya keperluan syar’i seperti untuk keperluan surat-surat administrasi seperti KTP,SIM,dsb maka ahsan kita tidak bersikap tafrith ( meremehkan ) dalil-dalil ataupun fatwa-fatwa dari para masyaikh dalam menjelaskan keharaman gambar.Allahu’alam sehingga kita pun beranggapan bahwa ketika tidak adanya dalil khusus yang menjelaskan suatu perkara ( dalam hal ini kasus memajang foto di FS ) kita pun malah mebikin fatwa baru tentang bolehnya memajang foto/gambar di FS ( misalnya )maka cobalah kita fikirkan!! kita jangan bersikap ghuluw dengan alasan-alasan yang tidak syar’i sehingga kita melanggar apa yang telah diharamkan Allah dan Rosul-Nya ( tentang gambar )</p>
<p>apa sih gunanya kita memajang foto diri kita??..ana tidak akan bersu’udzan sama yang memajang fotonya.tapi hendaknya kita bersikap hati-hati dalam memutuskan suatu perkara ketika kita telah menemukan dalil-dalil tentang keumuman suatu perkara yang sudah jelas hukumnya.</p>
<p>falillahilhamd ana berusaha untuk tidak memajang foto ana.dan ana masih bisa menjalin ukhuwah dengan ikhwah semua yang gabung di FS.ana bisa bikin janji ketemu kalau memang ingin menjalin ukhuwah lebih lanjut di dunia nyata,ana bisa ketemu ikhwah di kajian insya Allah dsb.wallahu’alam</p>
<p>semoga ana dan antum semua diberikan hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.Amiin</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elilmu.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elilmu.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elilmu.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elilmu.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elilmu.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elilmu.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elilmu.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elilmu.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elilmu.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elilmu.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elilmu.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elilmu.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elilmu.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elilmu.wordpress.com/260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elilmu.wordpress.com&amp;blog=8442591&amp;post=260&amp;subd=elilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elilmu.wordpress.com/2009/11/12/soal-jawab-masalah-gambar-foto-dan-vidio/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11ab2fdcebda9e092a3267fe41cb53d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
